Pendapatan Bukaka (BUKK) Tumbuh 27,9% pada Kuartal I-2026, Ini Segmen Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten terafiliasi Jusuf Kalla di bidang manufaktur dan infrastruktur, PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) mengantongi pendapatan sebesar Rp 867,9 miliar pada kuartal I-2026.

Berdasarkan laporan keuangannya, capaian tersebut berarti penjualan perusahaan melonjak 27,9% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 678,8 pada kuartal I-2025.

Rinciannya, segmen yang penopang utama adalah oil and gas equipment yang menyumbang Rp 78 miliar ke pendapatan dan offshore maintenance services yang berkontribusi Rp 61 miliar. 


Kinerja disusul steel bridge, steel tower, dan passenger boarding bridge (PBB) yang masing-masing berkontribusi Rp 54 miliar, Rp 37 miliar, serta Rp 28 miliar.

Baca Juga: Pedagang E-Commerce Wajib Punya Nomor Induk Berusaha, Akumindo Nilai Tak Jadi Beban

Kemudian, ada galvanize, construction PLTA, dan road construction equipment yang secara berurutan menyumbang Rp 21 miliar, Rp 13 miliar, dan Rp 9 miliar. Terakhir, special purphose vehicle menyumbang Rp 1 miliar. 

Kendati demikian, dari bottom line, laba bersih perusahaan turun 43% yoy dari Rp 167 miliar ke level Rp 95 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini.

Di tengah tantangan domestik pada tahun ini, Bukaka Teknik Utama optimistis dapat meraih penjualan sebesar Rp 4,1 triliun dan laba bersih Rp 333 miliar.

Direktur BUKK, Ade Nurkholis mengatakan, optimisme ini salah satunya didukung oleh segmen Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kerinci dan Poso.

"Jadi (target ini) kontribusinya dari berbagai sektor, tapi untuk yang lumayan signifikan besarnya itu dari PLTA," ujarnya dalam paparan publik di kantor Bukaka Teknik Utama, Kamis (18/6/2026).

Selain itu, ia menyebut Bukaka Teknik Utama optimistis dapat mendulang untung dari proyek jalur transmisi PLN yang tertunda pada 2024-2025 dan direncanakan akan kembali difokuskan tahun ini.

Baca Juga: Energi yang Andal Tak Hanya Soal Pasokan, Tapi Juga Memperhatikan Kualitas

Ade menyoroti proyek yang tersebar dari Pulau Sumatra, Jawa, hingga Indonesia Timur tersebut bernilai belasan triliun rupiah. 

"Kalau kita lihat belasan triliun rupiah, Bukaka dapat 10% saja sudah sekitar Rp 1 triliun, artinya itu luar biasa," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News