KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Meski penyaluran kredit berhasil tumbuh, pendapatan bunga sejumlah bank besar, khususnya dari sektor swasta, terpantau justru susut. Gegaranya, pertumbuhan kredit masih lebih ditopang kredit-kredit dengan imbal hasil (yield) rendah. Kita lihat di CIMB Niaga. Hingga Juli 2026, pendapatan bunga bank terkoreksi 4,83% secara tahunan menjadi Rp 12,67 triliun. Padahal, di saat yang sama total pembiayaannya tumbuh 7,79% secara
year on year (yoy) menjadi Rp 230,65 triliun. Dalam periode yang sama, pendapatan bunga Maybank Indonesia juga terkoreksi sebesar 3,44% yoy menjadi Rp 5,88 triliun. Senasib, pendapatan bunga Permata Bank dan SMBC masing-masing turun 8,25% yoy menjadi Rp 9,21 triliun dan 6,56% yoy menjadi Rp 7,61 triliun.
Baca Juga: Premi Asuransi dan Reasuransi Umum Terkontraksi 3,04% pada Juli 2026 Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, terbatasnya pendapatan bunga bank terutama disebabkan oleh permintaan kredit yang masih rendah, terkhususnya dari segmen ritel dan UMKM yang sejatinya menawarkan yield lebih tinggi. Di luar itu, Lani bilang biaya dana (cost of fund) yang masih mahal juga menjadi beban tersendiri. “Secara natural pendapatan bunga bersih jadi ikut terdampak,” tutur Lani kepada Kontan, Senin (7/9/2026). Lani mengaku belum bisa memproyeksi tren ke depan. “Kondisi sulit ditebak,” katanya. Maka dari itu, pihaknya memilih untuk lebih berfokus pada pendapatan komisi (fee income) untuk mengompensasi lemahnya pendapatan bunga. Di sisi lain, Bank Central Asia (BCA) masih berhasil menumbuhkan pendapatan bunganya pada Juli 2026, meski hanya sebesar 1,48% yoy menjadi Rp 54,59 triliun. Di saat yang sama, kredit bank sejatinya tumbuh 8,38% yoy menjadi Rp 1.000,88 triliun. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn bilang pendapatan bunga sejatinya tumbuh sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, dan pergerakan suku bunga. Pun, ia memastikan pihaknya bakal terus mendorong penyaluran kredit ke semua sektor dan segmen, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang disiplin, serta ditopang posisi permodalan dan likuiditas yang solid. “Kami juga optimistis secara umum dapat mencapai target sesuai RBB yang telah disusun hingga akhir 2026,” ujar Hera.
Baca Juga: Juli 2026, Jumlah Multifinance Belum Penuhi Modal Minimum Bertambah Jadi 9 Perusahaan SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan juga bilang iklim suku bunga menjadi faktor utama tren pendapatan bunga perbankan. Meski era suku bunga tinggi sudah kembali begitu BI-Rate dikerek naik ke 5,75%, Trioksa bilang dampaknya belum tercermin di seluruh portofolio kredit. “Sementara biaya dana, khususnya deposito dan
wholesale funding, dapat menyesuaikan lebih cepat, ada jarak antara kenaikan policy rate dan peningkatan yield kredit,” sebutnya.
Trioksa juga bilang pertumbuhan kredit kini sebenarnya terjadi ketika yield tertekan akibat kompetisi. Apalagi, ada perubahan komposisi kredit ke segmen yang secara natural memiliki yield rendah seperti kredit korporasi. Di luar itu, pendapatan bunga dari surat berharga juga belum tentu langsung mendorong pertumbuhan lantaran kupon portofolio
existing relatif tetap dan yield yang lebih tinggi baru terasa saat
reinvestment. Trioksa melihat pendapatan bunga berpotensi membaik secara bertahap pada semester II-2026, toh pertumbuhan kredit cukup kuat dan
repricing mulai berjalan. Hanya saja, ia memproyeksi pertumbuhannya masih relatif landai karena persaingan kredit dan biaya dana bakal membatasi ruang ekspansi margin. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News