Pendapatan dan Laba Bersih Melesat, Simak Prospek Saham Petrosea (PTRO)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Petrosea Tbk (PTRO) membukukan kinerja keuangan yang solid di sepanjang periode semester I-2026, Seiring gencarnya aksi diversifikasi bisnis, tren positif tersebut berpotensi berlanjut pada sisa tahun 2026.

Pada semester I-2026, pendapatan PTRO melonjak 59% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi US$ 543,98 juta. Laba bersih emiten milik Prajogo Pangestu ini turut melambung 902,5% yoy menjadi US$ 10,78 juta.

Analis Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus menilai, segmen penambangan masih menjadi penyumbang utama pendapatan bagi PTRO. Sumbangan itu seiring kenaikan kontribusi beberapa pelanggan besar, seperti PT Vale Indonesia Tbk, BP Berau, Kideco dan Freeport Indonesia.


PTRO juga mulai menghasilkan pendapatan dari segmen engineering, procurement, construction and Installation (EPCI) off shore minyak dan gas sebesar US$ 28,2 juta pada separuh pertama 2026. Pendapatan itu dari akuisisi entitas Grup Hafar yang terealisasi di 2025.

Lonjakan laba bersih PTRO juga dipengaruhi operasi yang dihentikan, terutama yang bukan dari aktivitas operasi bisnis berkelanjutan. "Ada yang berkaitan divestasi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada PT Singaraja Putra Tbk (SINI) beberapa waktu lalu. Investor perlu berhati hati dalam memprediksi laba bersih ke depan," ujarnya, Minggu (20/9).

Untuk sisa 2026 sampai 2027, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama bilang, PTRO masih memiliki potensi pendapatan yang cukup baik dari kontrak dan proyek baru maupun diversifikasi bisnis ke segmen engineering, procurement, construction (EPC) off-shore services, dan supporting services. "Jika proyek baru sesuai jadwal, pertumbuhan revenue masih berpotensi berlanjut dan operating leverage dapat membuat pertumbuhan laba lebih cepat dibandingkan pendapatan," ucap dia.

Katalis utama PTRO dari tambahan kontrak, peningkatan utilisasi alat berat, kenaikan margin dan commodity cycle yang kondusif. Sebaliknya, risiko utama P dari keterlambatan proyek, cost overrun, kenaikan beban keuangan, dan pelemahan harga komoditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News