KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jababeka Tbk (KIJA) tercatat membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp1,19 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, menurun dibandingkan
Rp1,29 triliun pada kuartal I-2025. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (30/4), pendapatan dari pilar land development & Property tercatat sebesar Rp507,1 miliar pada kuartal I-2026, turun dari Rp690,1 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan ini terutama berasal dari penjualan tanah matang yang tercatat sebesar Rp433,9 miliar dibandingkan Rp638,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penurunan penjualan lahan industri tersebut terutama berasal dari Cikarang dan Kendal, yang sebagian besar disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan,” ungkap Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda, dalam keterangannya.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Optimistis Raih Kinerja Keuangan Lebih Baik pada 2026 Namun demikian, penjualan tanah dan bangunan pabrik standar meningkat signifikan menjadi Rp32,5 miliar dari Rp9,3 miliar, sementara penjualan rumah dan tanah juga naik menjadi Rp21,8 miliar dari Rp13,9 miliar. Pencapaian ini menunjukkan permintaan properti industri tetap sehat. Di sisi lain, Pendapatan dari Pilar Infrastruktur terpantau meningkat 15% menjadi Rp654,7 miliar pada tiga bulan pertama tahun 2026, dibandingkan dengan Rp568,3 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen ketenagalistrikan yang meningkat menjadi Rp418,5 miliar dari Rp384,2 miliar, seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang. Selain itu, pendapatan dari segmen jasa dan pemeliharaan (air, air limbah, pengelolaan kawasan, dan lainnya) juga tumbuh signifikan menjadi Rp173,3 miliar dari Rp116,9 miliar, mencerminkan aktivitas tenant yang semakin tinggi, khususnya di Kendal.
Sedangkan pendapatan dry port (CDP) tercatat sebesar Rp57,2 miliar dibandingkan Rp62,6 miliar pada kuartal I-2025. Ia menyebutkan, kontribusi pendapatan berulang dari Pilar Infrastruktur juga semakin dominan, mencapai sekitar 55% dari total pendapatan. Hal ini mencerminkan fundamental bisnis yang semakin kuat dan berkelanjutan di tengah fluktuasi penjualan lahan.
Di samping itu, pendapatan dari Pilar Leisure & Hospitality tercatat relatif stabil sebesar Rp30,3 miliar dibandingkan Rp32,5 miliar di kuartal I-2025, dengan kontribusi utama tetap berasal dari segmen golf serta bisnis pendukung lainnya yang menjaga diversifikasi pendapatan perusahaan.
Hingga akhir Maret lalu, KIJA tercatat membukukan laba kotor konsolidasi sebesar Rp432,2 miliar, atau menurun dibandingkan Rp540,8 miliar di kuartal I-2025.
“Penurunan ini sejalan dengan menurunnya kontribusi dari penjualan lahan industri yang umumnya memiliki margin lebih tinggi, serta meningkatnya kontribusi dari Pilar Infrastruktur yang umumnya memberikan pendapatan lebih stabil namun dengan margin yang lebih rendah dibandingkan penjualan lahan,” jelasnya. Pada akhirnya, KIJA mencetak laba bersih sebesar Rp164,0 miliar. Angka ini mencerminkan penurunan sekitr 18% dibandingkan Rp 200,5 miliar di tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, EBITDA margin tetap berada pada level yang solid sebesar 32%, mencerminkan ketahanan model bisnis
yang semakin didukung oleh pendapatan berbasis utilitas dan jasa yang berulang. Dari sisi marketing sales, hingga kuartal pertama lalu angkanya tercatat sebesar Ro 540 miliar, mencerminkan 14% dari target setahun penuh 2026. Jika diperinci, penjualan dari Cikarang dan lainnya memberikan kontribusi sebesar 38%, terutama didorong oleh penjualan 3 hektar kepada perusahaan tekstil dari Indonesia.
Sementara Kendal memberikan kontribusi sebesar 62%, didukung oleh penjualan tanah seluas 7 hektar kepada perusahaan baterai dan 6 hektar kepada perusahaan bahan bangunan dari China.
Target marketing sales KIJA untuk tahun penuh 2026 adalah sebesar Rp3,75 triliun, dengan rincian Rp1,25 triliun berasal dari Cikarang dan lainnya (Rp800 miliar dari pengembangan lahan dan bangunan industri di Cikarang, dan Rp450 miliar dari properti residensial dan komersial di Cikarang (termasuk Perusahaan Patungan) dan lainnya). Sisanya sebesar Rp2,5 triliun berasal dari Kendal.
Baca Juga: Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Analis Prediksi Tekanan Berlanjut hingga Mei Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News