Pendapatan Diproyeksi Anjlok, Nike Siapkan Gelombang PHK Lanjutan



KONTAN.CO.ID - Raksasa pakaian dan perlengkapan olahraga global, Nike, memperdalam langkah restrukturisasi di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO) Elliott Hill.

Perusahaan merencanakan pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan dan merombak struktur divisi bisnis lamanya seiring melesunya kinerja di pasar China dan proyeksi penurunan pendapatan tahunan yang lebih tajam dari perkiraan.

Mengutip Reuters, proyeksi yang suram tersebut menegaskan bahwa tantangan bisnis Nike diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa kuartal ke depan. Di pasar China, penjualan Nike anjlok hingga 26% berbasis constant-currency pada kuartal pertama.


Baca Juga: Gagal Ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Sorotan Media Malaysia Kepada Timnas

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terkait lambatnya proses pemulihan (turnaround) bisnis perusahaan. Saham Nike pun merosot 8,5% pada perdagangan pasca-penutupan (extended trading) Kamis (1/10/2026).

Sejak dua tahun pertama masa jabatannya, Hill berupaya membangkitkan kembali pertumbuhan Nike dengan memfokuskan ulang pada kategori olahraga inti seperti lari (running) serta memperbaiki hubungan dengan para mitra ritel grosir (wholesale).

Namun, para analis menilai akar permasalahan Nike bersumber dari minimnya peluncuran produk baru yang inovatif dan memikat, sehingga perusahaan terpaksa bergantung pada aksi promo dan diskon.

"Lini bisnis performance kami belum cukup besar untuk mengimbangi tekanan di segmen sportswear, merek Jordan, dan wilayah Greater China," ujar Hill dalam konferensi pers usai rilis laporan keuangan.

Baca Juga: Sempat Menyentuh Rekor Tertinggi 24 Tahun, Yield US Treasury Akhirnya Melandai

Ia menambahkan bahwa memulihkan segmen yang melemah tersebut memerlukan waktu.

Guna menekan efisiensi, Nike meluncurkan model operasional baru yang mencakup pemangkasan jumlah karyawan serta penyederhanaan wilayah operasional dari empat menjadi tiga wilayah geografis, yakni Americas, Asia Pacific & Greater China, dan EMEA.

Di saat bersamaan, Nike berencana membuka kampus baru di India untuk mengoptimalkan potensi bakat lokal.

Manajemen Nike menyatakan belum menentukan jumlah pasti posisi yang akan terkena PHK. Pemberitahuan resmi kepada karyawan terdampak akan dimulai pada 2027.

Program restrukturisasi ini diperkirakan mampu menghemat biaya hingga US$ 2,5 miliar hingga tahun fiskal 2031, dengan porsi penghematan terbesar terealisasi pada tahun fiskal 2029 dan 2030.

Untuk tahun fiskal 2027, Nike memproyeksikan penurunan pendapatan di kisaran high single digit. Proyeksi ini jauh lebih buruk dibandingkan estimasi rata-rata analis LSEG yang memperkirakan penurunan pendapatan sekitar 2%.

"Secara prinsip tidak ada yang salah dengan rencana restrukturisasi ini, namun hal ini mengindikasikan bahwa model bisnis Nike saat ini sudah tidak lagi relevan, yang pada akhirnya memicu pertanyaan mengapa perubahan ini tidak dilakukan lebih awal," komentar Neil Saunders, Managing Director GlobalData.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 102 per Barel

Penjualan di China Kembali Merosot

China yang selama ini menjadi mesin pencetak laba utama Nike terus menunjukkan pelemahan signifikan akibat makin ketatnya persaingan dari merek internasional maupun lokal.

Penjualan Nike di kawasan ini telah mencatatkan penurunan selama sembilan kuartal berturut-turut. Padahal, China menyumbang sekitar 15% dari total pendapatan tahunan Nike dan menjadi pasar terbesar ketiga setelah Amerika Utara dan EMEA.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.165 per Ons Troi Usai Data Inflasi AS Melandai

Sebagai langkah antisipasi, Nike mengumumkan akan mencabut hak penjualan daring (online sales) dari beberapa mitra ritel terbesarnya di China mulai Januari mendatang. Langkah berisiko tinggi ini diambil demi memegang kendali penuh atas harga dan distribusi produk.

Namun, Hill memperingatkan bahwa pembersihan jalur digital ini membutuhkan waktu beberapa musim dan akan menekan pendapatan serta profitabilitas jangka pendek di China.

"Problem utama Nike di China bukanlah masalah saluran distribusi (channel), melainkan masalah produk," tegas Laurent Vasilescu, Analis Senior BNP Paribas.

Di sisi lain, pasar Amerika Utara yang merupakan pasar terbesar Nike menunjukkan sedikit sinyal positif dengan pertumbuhan penjualan sebesar 2% berbasis constant-currency, ditopang oleh kinerja segmen performance yang memanfaatkan momentum Piala Dunia.

Meski demikian, tantangan Nike bertambah setelah bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappe, mengakhiri kemitraan selama dua dekade dengan Nike pada September lalu untuk bergabung dengan merek kompetitor asal Swiss, On.

Secara keseluruhan, penjualan kuartalan Nike turun sekitar 4% menjadi US$ 11,21 miliar pada kuartal I, berada di bawah estimasi rata-rata analis sebesar US$ 11,32 miliar.

Baca Juga: Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global

Namun, margin kotor (gross margin) meningkat 60 basis poin menjadi 42,8% untuk kuartal yang berakhir 31 Agustus, terbantu oleh penurunan biaya pergudangan dan logistik.

Adapun pada September lalu, S&P Dow Jones Indices telah mengeluarkan Nike dari indeks S&P 100 sebagai bagian dari rebalancing kuartalan setelah 18 tahun bertahan dalam indeks perusahaan blue-chip tersebut.