KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) membukukan pendapatan Rp3,61 triliun pada Semester I-2026, tumbuh 6,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan aktivitas layanan rumah sakit seiring bertambahnya jumlah pasien dan kapasitas tempat tidur. Direktur Keuangan Medikaloka Hermina Yustinus Immanuel Herawan mengatakan, jika hanya melihat bisnis rumah sakit, pendapatan HEAL tumbuh lebih tinggi, yakni 8% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan volume pasien dan intensitas layanan rawat inap. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis Hermina tidak hanya berasal dari kenaikan jumlah pasien, tetapi juga dari peningkatan nilai layanan yang diberikan kepada pasien.
"Pendapatan tumbuh terutama didorong oleh peningkatan volume secara umum dan intensitas rawat inap yang menunjukkan bahwa selain volume pasien yang bertambah, kualitas dan kompleksitas layanan yang diberikan juga semakin baik," ujar Yustinus dalam public expose secara daring, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Hermina (HEAL) Proyeksikan Kinerja Semester II-2026 Tetap Tumbuh, Fokus Efisiensi Dari sisi kapasitas, jumlah tempat tidur HEAL bertambah 732 unit dibandingkan dengan Semester I-2025. Sebanyak 353 tempat tidur, di antaranya ditambahkan pada kuartal pertama tahun ini. Penambahan kapasitas tersebut diikuti oleh pertumbuhan volume pasien. Jumlah pasien rawat inap naik 6% secara tahunan dan 4% secara kuartalan. Sementara jumlah hari rawat inap meningkat 8% secara tahunan dan 5% secara kuartalan. Adapun jumlah pasien rawat jalan tumbuh 9% secara tahunan dan 13% secara kuartalan. Rata-rata lama rawat inap juga tetap terjaga di sekitar tiga hari. Di sisi lain, tingkat keterisian tempat tidur atau
bed occupancy rate (BOR) berada di level 68%. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan akhir 2025 akibat penambahan kapasitas tempat tidur pada kuartal pertama. Pertumbuhan pendapatan HEAL juga didukung oleh peningkatan nilai layanan kepada pasien. Pendapatan rawat inap meningkat sekitar 12% secara tahunan. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan
revenue per inpatient day pada pasien BPJS dan non-BPJS, masing-masing sebesar 6,5% dan 7,1% secara tahunan. Khusus pada kuartal II-2026,
revenue per inpatient day pasien non-BPJS bahkan melonjak 25% secara tahunan. Kondisi tersebut mencerminkan peningkatan intensitas dan nilai layanan yang diterima pasien. Ke depan, HEAL tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah pasien. Perseroan juga akan memperkuat layanan bernilai tambah melalui pengembangan
Center of Excellence, penambahan dokter spesialis dan subspesialis, serta penyediaan layanan medis dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Dari sisi profitabilitas, HEAL membukukan laba kotor Rp1,24 triliun pada Semester I-2026 dengan margin sekitar 34,2%. Perseroan juga mencatat perbaikan efisiensi pada biaya obat. Margin farmasi meningkat menjadi 31% dari sebelumnya 27%. Sementara itu, EBITDA HEAL relatif stabil di kisaran Rp940 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Stabilnya EBITDA terjadi di tengah biaya operasional yang meningkat seiring ekspansi kapasitas. Yustinus mengatakan penambahan tempat tidur membuat perseroan harus menanggung biaya tambahan, seperti tenaga kerja, pemeliharaan, utilitas dan biaya operasional rumah sakit lainnya. Selain itu, Hermina Badung Bali mulai beroperasi pada kuartal II-2026 sehingga biaya operasional rumah sakit tersebut mulai tercermin pada kinerja periode berjalan.
Baca Juga: Saham Hermina (HEAL) Keluar dari MSCI, Ini Prospeknya Meski begitu, manajemen menilai efisiensi operasional masih terjaga. Biaya tenaga kerja per tempat tidur turun 1,6%, sedangkan jumlah karyawan per tempat tidur turun 2,6%. "Penambahan sumber daya manusia tetap dilakukan secara disiplin, dan akan memberikan operating leverage yang semakin baik seiring meningkatnya utilisasi rumah sakit," jelas Yustinus. Kinerja kuartal II-2026 juga dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama periode libur sekolah dan rendahnya
effective working days. Secara historis, kuartal III menjadi periode dengan kinerja rumah sakit yang lebih optimal karena jumlah hari kerja efektif biasanya meningkat. "Dengan mempertimbangkan pertumbuhan pendapatan bisnis rumah sakit saja yang pada semester satu tumbuh positif mencapai 8%, maka optimisme kami sampai akhir tahun masih tetap positif," kata Yustinus. Di tengah ekspansi, HEAL tetap menjaga arus kas operasional untuk mendukung kebutuhan bisnis. Arus kas investasi masih cukup besar karena perseroan terus membangun rumah sakit baru, menambah kapasitas dan membeli peralatan medis. Pada 2026, capex HEAL berkisar Rp1,3 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan rumah sakit baru, renovasi rumah sakit eksisting serta pembelian peralatan medis. Tahun ini, HEAL telah meresmikan dua rumah sakit, yakni Hermina Badung Bali dan Hermina Kepanjen. Sebagian alokasi capex masih digunakan untuk kedua rumah sakit tersebut. Perseroan juga melakukan renovasi sejumlah rumah sakit untuk mengoptimalkan layanan non-BPJS. Renovasi tersebut antara lain diarahkan untuk memisahkan alur layanan BPJS dan non-BPJS agar kualitas pelayanan dapat ditingkatkan.
Selain itu, capex digunakan untuk pembelian alat medis guna melengkapi lini layanan dan memperkuat
Center of Excellence di sejumlah rumah sakit. Dengan bertambahnya kapasitas dan volume pasien, HEAL berharap utilisasi aset baru terus meningkat. Kondisi tersebut diharapkan menciptakan
operating leverage yang lebih baik sehingga tekanan depresiasi dan biaya ekspansi dapat secara bertahap diimbangi pertumbuhan pendapatan dan laba.
Baca Juga: Siapkan Strategi guna Genjot Kinerja pada 2026,Intip Rekomendasi Saham Hermina (HEAL) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News