Pendapatan & Laba Bersih United Tractors (UNTR) Turun di Kuartal I-2026, Cek Sebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang mengesankan dalam tiga bulan pertama 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan bersih konsolidasian UNTR turun 17% year on year (yoy) menjadi Rp 28,6 triliun pada kuartal I-2026.

Koreksi pendapatan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen mesin konstruksi dan kontraktor penambangan sebagai dampak penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara nasional tahun 2026.


Baca Juga: Laba Unilever (UNVR) Melonjak 72,99% pada Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya

"Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor pertambangan batubara termal dan metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi," tulis Manajemen UNTR dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/4/2026).

Jika dirinci, pendapatan bersih UNTR dari segmen kontraktor penambangan menyusut 6% yoy menjadi Rp 11,9 triliun pada kuartal I-2026. Pada saat yang sama, pendapatan dari segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi tumbuh 13% yoy menjadi Rp 8 triliun.

Berikutnya, segmen mesin konstruksi mengalami penurunan pendapatan sebesar 31% yoy menjadi Rp 7,5 triliun. Begitu pula dengan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya yang anjlok 76% yoy menjadi Rp 692 miliar.

Laba bersih UNTR tidak termasuk non-recurring charges turun 44% yoy menjadi Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batubara nasional tahun 2026.

Baca Juga: Strategi DCA Kembali Dilirik saat Pasar Kripto Sideways, Cocok untuk Investor Pemula?

Selama kuartal I-2026, UNTR mencatat non-recurring charges senilai Rp 1,2 triliun, terutama terdiri dari pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Per 31 Maret 2026, UNTR mencatat utang bersih sebesar Rp 5,5 triliun, dengan rasio utang bersih (net gearing ratio) sebesar 5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp 7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Berikut ini adalah rincian kinerja operasional dari berbagai lini usaha UNTR:

Segmen Mesin Konstruksi

UNTR mencatatkan penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 20% yoy menjadi 1.107 unit pada kuartal I-2026 yang disebabkan oleh penurunan penjualan pada sektor pertambangan. Dari total keseluruhan penjualan alat berat, sebesar 50% diserap sektor pertambangan, 17% diserap sektor perkebunan, 18% diserap sektor konstruksi, dan 15% ke sektor kehutanan.

Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu berada di level 18%. Komatsu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di sektor pertambangan.

Baca Juga: Lippo Cikarang (LPCK) Kantongi Marketing Sales Rp 491 Miliar di Kuartal I-2026

Pendapatan bersih UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 4% yoy menjadi Rp 2,7 triliun pada kuartal I-2026. Pendapatan bersih perusahaan dari mesin konstruksi juga terkoreksi 31% yoy menjadi Rp 7,5 triliun.

Segmen Kontraktor Penambangan

Sampai dengan kuartal I-2026, UNTR melalui PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) lebih rendah 7% menjadi 236 juta bank cubic meter (bcm) dan volume produksi batubara untuk para klien yang menurun 4% yoy menjadi 31 juta ton dengan rata-rata stripping ratio 7,6 kali. Hal ini mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.

Seiring dengan itu, pendapatan bersih UNTR dari kontraktor penambangan berkurang 6% yoy menjadi Rp 11,9 triliun pada kuartal I-2026.

Segmen Pertambangan Batubara Termal dan Metalurgi

UNTR melalui PT Tuah Turangga Agung meraih kenaikan volume penjualan batubara 23% yoy menjadi 4 juta ton (termasuk 0,9 juta ton batubara metalurgi) pada kuartal I-2026. Total volume penjualan batubara termasuk batubara pihak ketiga mencapai 4,6 juta ton atau 20% yoy lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan UNTR dari segmen ini pun meningkat 13% yoy menjadi Rp 8 triliun, sejalan dengan kenaikan harga rata-rata batubara.

Segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya

Pendapatan bersih UNTR dari segmen ini turun 76% menjadi Rp 692 miliar pada kuartal I-2026, terutama disebabkan oleh tidak adanya penjualan emas dari tambang emas Martabe.

Di bidang pertambangan emas, UNTR melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat penjualan setara emas 4.000 ons troi pada kuartal I-2026, menyusut 93% yoy dibandingkan periode sebelumnya. Pada Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melanjutkan operasional.

Dari bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 597.000 wet metric ton (wmt) sampai dengan triwulan pertama 2026, yang terdiri dari 171.000 wmt saprolit dan 426.000 wmt limonit.

Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Cetak Pendapatan US$ 116,56 Juta pada Kuartal I-2026

Sementara itu, Nickel Industries Limited (NIC) dengan kepemilikan sebesar 20,14% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. UNTR mengakui kontribusi dari NIC untuk periode tiga bulan ke belakang berdasarkan hasil dari NIC pada kuartal IV-2025. Kinerja bisnis ini terutama dipengaruhi oleh volume penjualan bijih nikel yang lebih rendah dan peningkatan biaya keuangan.

Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 31.429 ton pada kuartal IV-2025 dan 125.341 ton sepanjang tahun 2025. Pada tanggal 18 Februari 2026, NIC mengumumkan telah menerima kuota RKAB untuk penjualan bijih nikel tahun 2026 meningkat dari 9 juta wmt menjadi 14,3 juta wmt.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News