Pendapatan Median Rumah Tangga Singapura Tembus Rp 165 Juta per Bulan



KONTAN.CO.ID - Pendapatan median bulanan rumah tangga di Singapura pada 2025 menembus level S$12.000. Data Departemen Statistik Singapura (Singstat) mencatat, median pendapatan bulanan rumah tangga mencapai S$12.446 atau sekitar Rp165 juta (kurs Rp13.260), meningkat dari S$11.558 pada tahun sebelumnya atau naik 6,8% setelah disesuaikan dengan inflasi.

Jika dihitung per anggota rumah tangga, median pendapatan bulanan naik 7,5% secara riil, dari S$3.837 pada 2024 menjadi S$4.160 pada 2025.

Baca Juga: Bangun Transmisi Hijau, Adani Energy Raih Dana Jepang


Data ini tertuang dalam laporan Key Household Income Trends 2025 yang dirilis Singstat pada Senin (9/2/2026) dilansir dari laman Channelnewsasia.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan bahwa dalam satu dekade terakhir, upah riil meningkat di seluruh lapisan pendapatan.

Artinya, pertumbuhan upah mampu melampaui laju inflasi bagi sebagian besar pekerja dan rumah tangga.

“Yang penting, pertumbuhan upah paling kuat justru terjadi pada kelompok berpendapatan rendah, lebih cepat dibandingkan kelompok menengah maupun atas,” ujar Wong dalam video yang diunggah di media sosial.

Baca Juga: Minyak Dunia Anomali: Konflik Reda, Tapi Ancaman Iran Belum Sirna

Definisi Pendapatan Diperluas

Berbeda dari laporan sebelumnya, Singstat mulai 2025 memperluas definisi pendapatan rumah tangga.

Jika sebelumnya hanya menghitung pendapatan kerja, kini cakupan diperluas menjadi market income, yakni pendapatan dari pekerjaan dan non-pekerjaan.

Selain itu, kategori rumah tangga penduduk juga mencakup rumah tangga tanpa anggota yang bekerja.

Langkah ini diambil seiring meningkatnya jumlah rumah tangga lanjut usia yang tidak lagi memiliki pendapatan kerja, namun memperoleh penghasilan dari sumber lain seperti sewa, investasi, dan anuitas.

Baca Juga: Pasar Global Menguat Senin (9/2), Saham Teknologi Bangkit & Fokus Beralih ke Data AS

“Dengan populasi yang menua, semakin banyak rumah tangga beranggotakan individu berusia 65 tahun ke atas yang tidak bekerja, tetapi memiliki pendapatan non-pekerjaan. Definisi baru ini memungkinkan analisis tren pendapatan yang lebih komprehensif,” jelas Singstat.

Pendapatan non-pekerjaan meliputi bunga tabungan atau saldo Central Provident Fund (CPF), dividen investasi, transfer antar rumah tangga, pendapatan sewa, serta pembayaran CPF dan asuransi.

Singstat mengakui adanya potensi underreporting, terutama pada kelompok rumah tangga kaya, karena sebagian data pendapatan non-pekerjaan dikumpulkan melalui survei dan lebih sulit dilacak dibanding data administratif seperti CPF dan Central Depository.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 5.000 per Ons, Investor Menanti Data Ekonomi AS

Kenaikan Pendapatan di Seluruh Kelompok

Dalam satu dekade terakhir, seluruh kelompok pendapatan mencatat kenaikan pendapatan riil.

Setelah disesuaikan inflasi, rumah tangga di 10% terbawah mengalami kenaikan pendapatan sebesar 10,5% dalam lima tahun terakhir, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,4% pada kelompok 10% teratas.

Menariknya, Singstat mencatat sebagian rumah tangga di kelompok pendapatan terbawah memiliki mobil, mempekerjakan asisten rumah tangga, tinggal di properti swasta, atau memiliki kepala rumah tangga berusia 65 tahun ke atas.

Pendapatan dari pekerjaan tetap menjadi sumber utama penghasilan rumah tangga, meski porsinya turun menjadi 79,6% pada 2025 dari 81,1% pada 2024.

Baca Juga: Kremlin Ingatkan Krisis BBM di Kuba Kritis, Tekanan AS Dinilai Perparah Situasi

Bagi kelompok pendapatan terendah, sumber utama justru berasal dari pendapatan non-pekerjaan.

Di kelompok ini, pendapatan investasi terutama bunga dari saldo CPF menyumbang 40,9% pendapatan per anggota rumah tangga.

Pendapatan lain seperti pembayaran CPF dan skema Lifelong Income for the Elderly menyumbang 37%, sementara pendapatan sewa hanya 3,2%. Sisanya, 19,2%, berasal dari pekerjaan.

Peran Transfer Pemerintah dan Ketimpangan

Rumah tangga pada kelompok pendapatan pertama hingga ketujuh menerima transfer pemerintah lebih besar dibandingkan pajak yang mereka bayarkan.

Pada 2025, rata-rata rumah tangga menerima S$7.300 per anggota dari berbagai bentuk bantuan pemerintah, turun dari S$7.725 pada 2024 seiring berakhirnya sejumlah bantuan satu kali.

Penduduk yang tinggal di flat HDB satu dan dua kamar menerima dukungan terbesar, rata-rata mencapai S$16.510 per anggota rumah tangga lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional.

Baca Juga: Eropa Harus Bersiap Ambil Peran Lebih Besar sebagai Safe Haven Global

“Untuk setiap satu dolar pajak yang dibayarkan rumah tangga berpendapatan rendah, mereka menerima sekitar tujuh dolar manfaat. Rumah tangga kelas menengah menerima sekitar dua dolar, sementara 20% teratas hanya sekitar 20 sen,” ujar Wong yang juga menjabat Menteri Keuangan.

Ia menegaskan sistem tersebut mencerminkan prinsip keadilan fiskal, di mana kelompok mampu berkontribusi lebih besar, sementara kelompok dengan kebutuhan lebih tinggi menerima manfaat lebih besar.

Sejalan dengan itu, tingkat ketimpangan pendapatan di Singapura terus menurun. Koefisien Gini berbasis market income turun ke level 0,452 pada 2025 dari 0,460 pada 2024, terendah sejak pencatatan dimulai pada 2014.

Setelah memperhitungkan transfer pemerintah dan pajak, koefisien Gini kembali turun menjadi 0,379, juga rekor terendah sejak 2015.

Selanjutnya: Volatilitas Pasar Saham Tinggi Jelang Pertemuan MSCI, Investor Perlu Waspada

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (10/2)