Pendapatan Perbankan dari Kredit Wholesale Mulai Terbatas, Ini Tantangannya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan menghadapi tantangan di segmen kredit wholesale. Selain transmisi suku bunga acuan, bank juga perlu menyesuaikan pricing sebagai respons ketatnya persaingan.

Bank Indonesia (BI) mencatat kredit korporasi secara industri masih tumbuh masif hingga 14% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Maret 2026, melaju dari pertumbuhan 13,8% yoy pada bulan sebelumnya. 

Namun begitu, bank-bank yang secara historis memiliki porsi besar pada portofolio kredit wholesale justru menghadapi tantangan. Sebut saja PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Hingga kuartal I-2026, kredit wholesale BNI berhasil tumbuh 26% yoy. 


Namun, kata Direktur Keuangan BNI Paolo Kartadjoemena, capaian itu terdorong pencairan kredit ke Agrinas yang mencapai Rp 55 triliun. Itu membuat kredit korporasi tumbuh 24% yoy.

Baca Juga: Meski Turun, Permintaan Kredit Sindikasi Mulai Membaik pada Akhir Tahun 2025

Namun kalau kredit ke Agrinas dikecualikan, kredit korporasi sejatinya hanya tumbuh 11% yoy, melambat dari pertumbuhan 16% yoy pada bulan sebelumnya.

Dari segi imbal hasil, pendapatan bank dari segmen wholesale juga terbatas. Imbal hasil kredit wholesale BNI hanya tumbuh 6,1% yoy, melambat dari pertumbuhan 6,5% yoy pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Menurut Paolo, pada dasarnya persaingan di kredit wholesale kini memang lebih ketat.

“Para pesaing yang sebelumnya lebih fokus pada segmen lain kini makin banyak masuk ke segmen wholesale,” katanya dalam analyst meeting pekan lalu. 

Maka dari itu, Paolo bilang pihaknya mau tak mau menetapkan strategi pricing yang lebih agresif, yang pada gilirannya membuat pertumbuhan imbal hasil jadi lebih terbatas.

Dalam kondisi ini, BNI berstrategi dengan menjajaki penyaluran kredit ke rantai bisnis nasabah eksisting, yang harapannya bisa mendorong kredit di segmen menengah. 

Kendati begitu, Paolo melihat tekanan imbal hasil di kredit wholesale bakal lebih terbatas ke depannya. Pasalnya, ia melihat selisih suku bunga kredit dengan suku bunga produk pendanaan lainnya sudah sangat tipis. 

Baca Juga: Bunga Kredit Perbankan Mulai Turun Meski Lambat, Ini Pemicunya

Setali tiga uang, CIMB Niaga juga mencatatkan pertumbuhan kredit wholesale yang terbatas. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang, pertumbuhannya kisaran 4,5% yoy hingga kuartal I-2026.

“Relatif terbatas,” katanya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026). 

Imbasnya, lanjut Lani, imbal hasil kredit wholesale turun kisaran 92 bps. Secara umum, imbal hasil kredit bank memang menurun untuk menyeimbangi penurunan biaya dana pihak ketiga (DPK). 

Namun di luar itu, Lani bilang pada dasarnya permintaan kredit memang masih relatif rendah. Belum lagi, kompetisi di pasar kian ketat, khususnya persaingan untuk mendapatkan nasabah berisiko rendah. 

Dengan portofolio yang masih banyak ditopang segmen wholesale, Lani bilang tren terbatasnya imbal hasil kredit ini bakal membuat margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank juga tertekan.

Baca Juga: Ini Strategi Asei Jaga Rasio Klaim Asuransi Kredit Tetap Dalam Batas yang Sehat

“Pendapatan bunga masih menjadi tantangan dan tak akan meningkat,” sebutnya. 

Maka dari itu, CIMB Niaga kini juga mulai fokus pada pendapatan non-bunga, mengingat saat ini rasio komisi terhadap pendapatan (fee to income ratio) juga telah melebihi 36%.

Apalagi, sumber pendapatan ini tak menyimpan risiko kredit, sehingga profit yang dihasilkan lebih sustain. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News