KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) membukukan pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 8,3% secara tahunan. Capaian tersebut menjadi pendapatan kumulatif sembilan bulan tertinggi Prodia dalam lima tahun terakhir. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, Prodia mencatatkan laba bersih senilai Rp 125,9 miliar atau meningkat 10% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara itu, EBITDA naik 9,7% menjadi Rp 340,2 miliar hingga September 2026. Dari sisi operasional, volume pemeriksaan meningkat 12,8% secara tahunan dengan total tes melampaui 15 juta pemeriksaan. Jumlah kunjungan pelanggan juga tumbuh di seluruh segmen, dengan kontribusi pendapatan terutama berasal dari segmen rujukan dokter dan klien korporasi.
Baca Juga: Berlaku November 2026-Januari 2027, Inilah Daftar Saham Indeks LQ45 Terbaru President Director Prodia Liana Kuswandi mengatakan, perusahaan akan memperkuat strategi untuk mendorong pertumbuhan bisnis, antara lain melalui peningkatan keterlibatan pelanggan dan pengembangan layanan diagnostik. “Ke depan, kami akan terus memperkuat strategi Perseroan melalui peningkatan efektivitas customer engagement untuk mendorong frekuensi kunjungan dan retensi pelanggan, serta mempercepat adopsi tes-tes baru agar dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan,” ungkap Liana dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026). Selain itu, Prodia juga mengembangkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi, termasuk penguatan layanan pada specialty clinics. PRDA turut mendorong pengembangan product mix, efisiensi operasional, transformasi teknologi digital, serta kemitraan strategis. Hingga kuartal III-2026, Prodia telah meluncurkan 15 tes baru, termasuk Prodia Pharmacogenomics (PGx) yang membantu dokter menentukan pilihan obat dan dosis berdasarkan profil genetik individu. Perusahaan juga memperluas jangkauan layanan internasional melalui pembukaan Point of Care (POC) di Timor-Leste. Dari sisi keuangan, Prodia mencatat arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 301,3 miliar. Sementara itu, arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp 106,8 miliar. Per 30 September 2026, total aset Prodia mencapai Rp 2,62 triliun, meningkat 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total liabilitas naik 0,4% menjadi Rp 269 miliar, sedangkan ekuitas tumbuh 1,7% menjadi Rp 2,35 triliun. Kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 570,5 miliar, meningkat 2,9% secara tahunan. Finance & Sustainability Director Prodia Marina Eka Amalia mengatakan, pertumbuhan laba bersih dan EBITDA mencerminkan profitabilitas perusahaan yang semakin baik. “Kami terus menjaga kualitas pertumbuhan melalui disiplin biaya operasional, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi proses bisnis,” tutur Marina. Untuk mendukung pengembangan usaha, Prodia mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 150 miliar pada 2026. Hingga September, realisasi belanja modal mencapai Rp 57,6 miliar. Di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, Prodia juga melaksanakan program pembelian kembali saham atau buyback. Hingga 30 September 2026, jumlah saham hasil buyback yang tercatat sebagai saham treasuri mencapai 61,44 juta saham atau sekitar 6,5% dari modal disetor.
Baca Juga: Harga Emas Spot Merosot ke Level Terendah Sejak Oktober 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News