KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mayoritas bank BUMN mencatatkan penurunan pendapatan
recovery pada kuartal I-2026. Tren ini dinilai mencerminkan mulai normalnya pemulihan kredit pascapandemi Covid-19 yang sebelumnya sempat menopang lonjakan recovery aset hapus buku (write off). PT Bank Mandiri (
BMRI) misalnya, secara bank only membukukan pendapatan
recovery sebesar Rp 1,02 triliun pada tiga bulan pertama 2026. Angka tersebut turun 39,64% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,69 triliun.
Meski begitu,
recovery rate Bank Mandiri masih tergolong tinggi, yakni mencapai 79,40%, walaupun turun dibandingkan kuartal I-2025 yang sempat berada di level 104%. Penurunan serupa juga dialami PT Bank Tabungan Negara. Bank berkode saham
BBTN ini mencatat pendapatan
recovery dari aset yang telah dihapusbukukan sebesar Rp 130 miliar atau turun sekitar 19,75% secara tahunan.
Baca Juga: Bank Danamon Pastikan Portofolio Kredit Hijaunya Tumbuh Positif pada 2026 Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) mencatat pendapatan
recovery sebesar Rp 4,3 triliun pada kuartal I-2026, turun 14% YoY dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5 triliun. Berbeda dengan bank BUMN lainnya, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) justru membukukan kenaikan pendapatan
recovery sebesar 12,93% YoY menjadi Rp 1,25 triliun. Tak hanya itu,
recovery rate BNI juga meningkat signifikan dari 40,3% pada kuartal I-2025 menjadi 71% pada kuartal I-2026. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai penurunan
recovery merupakan hal yang wajar mengingat proses pemulihan kredit pascapandemi telah berlangsung cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. “
Recovery pasca pandemi Covid-19 sudah cukup besar dan saat ini masuk fase penurunan,” ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Senin (11/5).
Baca Juga: Bank Sampoerna Soroti Risiko Nasabah Menggadaikan Barang Hasil Kredit Ia memperkirakan tren penurunan pendapatan
recovery masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Karena itu, bank perlu menjaga kualitas kredit melalui ekspansi yang lebih selektif serta meningkatkan efisiensi operasional. “Strategi yang perlu dilakukan bank adalah melakukan ekspansi selektif dan efisiensi biaya operasional,” katanya. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan pendapatan
recovery umumnya bergerak searah dengan kondisi ekonomi. “Kalau ekonomi sedang dalam tren menurun, umumnya
recovery juga akan turun karena minat investor ataupun
buyer dari aset NPL juga turun,” ujarnya. Menurut Setiyo, langkah hapus tagih (charge-off) tidak otomatis menjadi pendapatan bagi bank. Namun, langkah tersebut penting untuk menata neraca sekaligus mempercepat proses pemulihan aset bermasalah. “Hapus tagih memfasilitasi percepatan
recovery melalui penjualan agunan atau penagihan. Setiap realisasi kas pasca hapus tagih dicatat sebagai pendapatan recovery sesuai ketentuan akuntansi,” jelasnya. Ia menambahkan,
recovery memberikan kontribusi positif terhadap kinerja bank karena dapat menambah pendapatan non-bunga sekaligus memperbaiki kualitas aset seperti rasio NPL dan
loan at risk (LAR).
Baca Juga: Biaya Kredit BTN Turun Jadi 0,9% pada Kuartal I-2026, Berikut Pendorongnya Selain itu,
recovery juga membantu menurunkan biaya kredit (cost of credit) dan kebutuhan pencadangan atau CKPN sehingga memberi ruang ekspansi kredit yang lebih sehat dan
prudent. Untuk menjaga momentum
recovery hingga akhir tahun, BTN telah membentuk tim khusus (task force) percepatan
recovery serta menggandeng sejumlah asset management company guna mempercepat penjualan aset bermasalah. BTN juga akan mereplikasi strategi penjualan aset (
asset sales playbook) di seluruh wilayah, memperdalam analitik untuk prioritas pipeline, serta memperluas jaringan mitra lelang, agen, dan investor. “Kami tetap disiplin pada
governance dan
compliance, termasuk menjaga kualitas penjualan berbasis appraisal independen serta mempercepat
turnaround time,” kata Setiyo. Ia optimistis tren
recovery BTN masih dapat terjaga hingga akhir tahun meski kondisi ekonomi masih menantang.
Baca Juga: Bank CIMB Niaga (BNGA) Beberkan Penyebab Biaya Kredit Tumbuh di Kuartal I-2026 Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, menyebut kualitas aset perseroan masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah
(non performing loan/NPL) sebesar 1,89%, lebih baik dibanding rata-rata industri. Ia menambahkan, stabilnya
recovery CIMB Niaga ditopang kualitas portofolio kredit yang tetap sehat secara keseluruhan, kendati ia tak membeberkan lebih detail berapa realsisasi pendapatan
recovery nya di kuartal I-2026. “Dari sisi
recovery juga stabil karena
quality dari portofolio secara keseluruhan yang baik,” kata Lani. Hingga akhir tahun, CIMB Niaga memproyeksikan NPL tetap terjaga di bawah 2%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News