KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendapatan dan laba bersih PT RMK Energy Tbk (
RMKE) kompak melonjak pada semester I-2026. Perusahaan penyedia jasa logistik batubara terintegrasi ini mengantongi pendapatan senilai Rp 1,59 triliun, atau melejit setinggi 176,68% secara tahunan atau
year on year (yoy). Sebagai perbandingan, RMKE membukukan pendapatan sebesar Rp 575,71 miliar pada semester I-2025. Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan RMKE meningkat 208,86% (yoy) dari Rp 429,25 miliar menjadi Rp 1,32 triliun hingga Juni 2026.
Baca Juga:
RMK Energy (RMKE) Resmi Merilis Obligasi Senilai Rp 600 Miliar Hasil tersebut membuat RMKE mengantongi laba bruto sebesar Rp 267,08 miliar selama enam bulan pertama 2026. Laba bruto RMKE meningkat 82,35% dibandingkan raihan Rp 146,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Secara
bottom line, RMKE meraih laba bersih sebesar Rp 163,33 miliar pada semester I-2026. Keuntungan RMKE melonjak sebanyak 89,58% dibandingkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk RMKE pada semester I-2025, yang kala itu tercatat sebesar Rp 86,15 miliar.
Direktur Utama RMK Energy, Vincent Saputra menjelaskan bahwa lonjakan pendapatan usaha RMKE didorong oleh kenaikan kontribusi dari segmen penjualan batubara sebesar 72,1% dan segmen jasa batubara sebesar 27,9%. Pada segmen penjualan batubara, peningkatan pendapatan ditopang oleh kenaikan volume penjualan yang mencapai 1,7 juta ton, tumbuh 302,3% (yoy), serta kenaikan harga jual rata-rata sebesar 15,1% (yoy). Baca Juga:
RMK Energy (RMKE) Segera Menggelar Stock Split Saham Kenaikan volume dan harga jual tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan batubara pada semester I-2026. Sementara itu, pendapatan dari segmen jasa pengangkutan batubara turut meningkat seiring kenaikan volume hauling yang mencapai 1,4 juta ton, atau tumbuh 424,9% (yoy). Peningkatan volume ini turut mendukung RMKE dalam mencapai volume muatan barge sebesar 3,2 juta ton. Dari sisi profitabilitas, laba usaha RMKE dikontribusikan oleh segmen penjualan batubara sebesar 36,3% dan segmen jasa batubara sebesar 63,7%.
Vincent menyoroti bahwa segmen jasa memberikan kontribusi laba dengan margin yang lebih tinggi dibandingkan segmen penjualan batubara. Hal ini mencerminkan operating leverage yang melekat pada model bisnis logistik berbasis aset. Meski begitu, Vincent menyatakan bahwa kedua segmen tersebut bersifat saling melengkapi, bukan saling bersaing sebagai pusat laba. Baca Juga:
RMK Energy (RMKE) Tuntaskan Buyback Saham Senilai Rp 44,5 Miliar Pertumbuhan volume jasa secara langsung mendorong peningkatan volume penjualan batubara, karena volume jasa yang lebih baik memungkinkan RMKE untuk menjual batubara dalam volume yang lebih besar.