Pendapatan SSIA Tumbuh 44,7% hingga Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga kuartal III-2026. Peningkatan penjualan lahan di kawasan industri Subang Smartpolitan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan pendapatan dan laba bersih perusahaan.

Hingga kuartal III-2026, SSIA membukukan pendapatan sebesar Rp 4,81 triliun atau tumbuh 44,7% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut turut diikuti lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 344,44 miliar, dibandingkan Rp 6,47 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tim Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Sekuritas menilai, peningkatan kinerja SSIA terutama ditopang oleh kenaikan penjualan lahan di kawasan industri Subang Smartpolitan.


"Pendorong utama pengakuan penjualan lahan Subang Smartpolitan: tahun lalu cuma 11 hektare, tahun ini target lebih dari 130 hektare. Marginnya jauh di atas konstruksi, jadi kenaikan pendapatan 45% berlipat ke laba," ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: Kinerja Emiten Semen Membaik, Ini Saham Pilihan Analis

Selain penjualan lahan, masuknya produsen kendaraan listrik BYD serta pemulihan bisnis perhotelan turut menjadi faktor pendukung pertumbuhan kinerja SSIA.

Tim Riset KISI menjelaskan, segmen kawasan industri merupakan kontributor terbesar terhadap laba perusahaan. Sementara itu, segmen konstruksi memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan, tetapi memiliki margin yang relatif tipis.

Adapun segmen perhotelan berperan dalam menyediakan sumber arus kas berulang bagi perusahaan.

Dari sisi prospek, KISI menilai kinerja SSIA masih berpeluang mencatatkan pertumbuhan kuat hingga akhir 2026. Pasalnya, laba bersih yang telah dibukukan selama sembilan bulan pertama tahun ini bahkan sudah melampaui proyeksi laba untuk satu tahun penuh.

Meski demikian, SSIA perlu mewaspadai tantangan pertumbuhan pada 2027. Perusahaan dinilai membutuhkan tambahan penyewa jangkar (anchor tenant) baru untuk mempertahankan momentum penjualan lahan.

Salah satu peluang yang dapat dibidik adalah permintaan lahan sekitar 100 hektare dari rantai pasok industri otomotif dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Dari sisi prospek penjualan lahan, peluang pertumbuhan permintaan dinilai masih terbuka. Kehadiran BYD berpotensi menarik perusahaan pemasok untuk ikut berinvestasi di kawasan Subang Smartpolitan.

Baca Juga: Kontrak Baru WIKA Melonjak 57,9%, Tembus Rp 9,78 Triliun hingga September 2026

Selain itu, relokasi pabrik dari China ke Indonesia serta meningkatnya minat sektor pusat data (data center) juga berpotensi menjadi katalis positif bagi penjualan lahan industri SSIA.

"FDI riil Q2 tumbuh 27,4%. Tapi permintaan lahan bergelombang: satu transaksi besar bisa mengubah kinerja setahun," jelasnya.

Lebih lanjut, terdapat sejumlah sentimen positif yang berpotensi menopang kinerja SSIA. Sentimen tersebut meliputi pengembangan klaster BYD, pembangunan Tol Patimban, kenaikan harga lahan industri, serta pemulihan bisnis perhotelan.

Namun, SSIA juga masih menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati. Di antaranya adalah ketidakpastian realisasi masuknya penyewa baru, kondisi iklim investasi, persaingan dengan kawasan industri lain, serta margin segmen konstruksi yang relatif tipis.

Terkait rekomendasi investasi saham, KISI menyampaikan bahwa target harga saham SSIA saat ini masih dalam peninjauan (under review).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News