Pendapatan TOWR Tumbuh Solid, Begini Prospek Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten menara telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), berhasil mencetak pertumbuhan kinerja positif pada periode Januari–September 2026.

Melansir laporan keuangan per 30 September 2026, TOWR meraup pendapatan sebesar Rp 11,06 triliun. Raihan ini tumbuh 14,18% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 9,68 triliun.

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk TOWR mencapai Rp 2,88 triliun per kuartal III-2026. Ini melesat 12,98% YoY dari Rp 2,55 triliun.


Adapun TOWR mencatat surplus arus kas operasional sebesar Rp 8,3 triliun, yang dialokasikan untuk mendukung pertumbuhan bisnis, memenuhi kewajiban utang, dan memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.089 Per Dolar AS Hari Ini (6/11)

Surplus tersebut berasal dari penerimaan sebesar Rp 13,32 triliun, setelah dikurangi beban operasional Rp 3,16 triliun dan pajak Rp 1,85 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.

Dari total surplus kas tersebut, TOWR mengalokasikan Rp 5,58 triliun untuk investasi dan pengembangan bisnis inti, termasuk belanja modal, pembayaran sewa lahan, serta akuisisi dan investasi.

Belanja modal atau capital expenditure (capex) menjadi porsi terbesar, yakni Rp 4,15 triliun. Sementara itu, pembayaran sewa lahan mencapai Rp 899 miliar dan akuisisi serta investasi Rp 537 miliar.

Selain mendanai ekspansi, TOWR menggunakan Rp 2,07 triliun untuk pembayaran bunga bersih dan Rp 40 miliar untuk pelunasan pokok pinjaman, sebagai bagian dari pengelolaan kewajiban utang.

Dari sisi portofolio, TOWR mengoperasikan 36.958 menara per September 2026. Ini meningkat 2,5% dibandingkan 36.049 menara pada periode sama tahun sebelumnya. Sebanyak 66% menara telah terhubung dengan jaringan fiber.

Adapun jumlah tenancy tersebut menghasilkan rasio tenancy sebesar 1,67 kali pada September 2026, naik dari 1,61 kali pada September 2025. Angka ini mencerminkan tingkat pemanfaatan aset menara TOWR.

Selain bisnis menara, TOWR terus mengembangkan jaringan fiber optik sebagai penopang layanan fiber-to-the-tower (FTTT), fiber-to-the-home (FTTH), serta solusi konektivitas bagi pelanggan korporasi.

Hingga September 2026, aset fiber TOWR mencapai 204.417 kilometer, didukung 806 points of presence (PoP) dan kabel bawah laut yang menghubungkan pulau-pulau utama di Indonesia.

Pada segmen FTTT, jaringan fiber yang menghasilkan pendapatan mencapai 234.885 kilometer, naik 6,1% dibandingkan 221.419 kilometer pada September 2025. Tingkat utilisasi jaringan juga meningkat menjadi 184%.

Baca Juga: Cipta Perdana (PART) Tak Cuma Bisnis Komponen Otomotif, Valuasi Diproyeksi Rp 193

Di bisnis FTTH, jumlah homes passed mencapai 2,72 juta rumah, meningkat 51,5% dibandingkan 1,80 juta rumah pada September 2025. Jaringan ini telah tersebar di 122 kota.

Adapun jumlah pelanggan berbayar FTTH tercatat 498.844 pelanggan, dengan tingkat penetrasi 18%. Capaian tersebut meningkat 111,4% dibandingkan 236.010 pelanggan atau penetrasi 13% pada periode sebelumnya.

Pada segmen connectivity solutions, TOWR membukukan 37.199 aktivasi, tumbuh 47,8% dibandingkan 25.163 aktivasi pada September 2025. Segmen ini juga melayani 5.893 pelanggan enterprise.

Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja mencermati kontribusi bisnis non-menara meningkat signifikan, terutama dari bisnis power-as-a-service yang dijalankan PT Bach Multi Global Tbk (BACH).

“Sementara pendapatan menara masih menghadapi tekanan akibat penurunan tarif sewa dan terbatasnya penambahan penyewa,” tulisnya dalam riset yang dirilis Rabu (4/11).

Lebih lanjut, Mirae Asset Sekuritas menggerek proyeksi pendapatan TOWR untuk 2026 hingga 2028 sebesar 8,3%-9,2%. Ini seiring kontribusi BACH yang lebih besar, tetapi memangkas asumsi bisnis menara.

Daniel memperkirakan penambahan penyewa akan lebih rendah sekitar 1.000 tenant per tahun, sementara asumsi tarif sewa dipangkas 4,9% untuk tiga tahun mendatang.

Meski pendapatan diproyeksikan meningkat, Mirae Asset Sekuritas memangkas proyeksi EBITDA hanya sebesar 0,7%-1,3% untuk periode 2026-2028 karena kontribusi bisnis non-menara memiliki margin lebih rendah.

Baca Juga: Nusantara Pelabuhan (PORT) Tebar Dividen Interim Rp 100,25 Miliar, Simak Jadwalnya

Selain itu, proyeksi laba bersih TOWR juga dipangkas 4,7%-8,1% untuk periode 2026-2028. Daniel bilang ini dipengaruhi asumsi tarif pajak lebih tinggi dan porsi kepentingan nonpengendali BACH sebesar 49%.

Meski begitu, Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy saham TOWR, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp 620 dari sebelumnya Rp 700 per saham.

Daniel menyebut konsolidasi industri masih membatasi penambahan penyewa dan pertumbuhan tarif sewa, meskipun densifikasi jaringan 5G berpotensi menjadi katalis baru bagi permintaan menara.

“Adapun risiko penurunan rekomendasi mencakup penambahan penyewa yang lebih lambat dari perkiraan, tantangan eksekusi bisnis, serta kenaikan suku bunga yang berlangsung lebih cepat,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News