KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Goldman Sachs membukukan lonjakan laba pada kuartal II 2026, didorong meningkatnya aktivitas transaksi korporasi (dealmaking) serta tingginya volatilitas pasar akibat konflik di Timur Tengah yang mengerek pendapatan bisnis perdagangan saham (
equities). Mengutip
Reuters, Selasa (14/7/2026), meningkatnya risiko inflasi, lonjakan harga minyak, serta ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat membuat investor melakukan penyesuaian portofolio secara agresif.
Baca Juga: Laba Wells Fargo Melonjak 17%, Menguat di Tengah Gejolak Pasar Kondisi tersebut mendorong peningkatan aktivitas perdagangan dan mengangkat pendapatan divisi equities Goldman Sachs ke level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dinantikan pasar pada akhir kuartal turut meningkatkan volume transaksi. Goldman Sachs menjadi salah satu penjamin emisi utama (lead underwriter) dalam IPO tersebut. Pendapatan bisnis perdagangan saham Goldman Sachs melonjak 72% secara tahunan menjadi US$ 7,42 miliar. Sementara itu, pendapatan divisi perdagangan pendapatan tetap, valuta asing, dan komoditas (
fixed income, currency and commodities/FICC) naik 32% menjadi US$ 4,59 miliar. "Momentum terus menguat di seluruh lini bisnis kami. Klien mempercayakan kepada kami berbagai transaksi strategis dan bernilai besar yang menjadi awal dari aktivitas di seluruh bisnis perusahaan," ujar Chief Executive Officer Goldman Sachs David Solomon dalam pernyataannya. Secara keseluruhan, Goldman Sachs mencatat laba bersih sebesar US$ 6,63 miliar, atau US$ 20,98 per saham, untuk periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu bank investasi tersebut membukukan laba US$ 3,72 miliar, atau US$ 10,91 per saham. Kinerja tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi saham Goldman Sachs, yang sepanjang tahun ini telah mengungguli kenaikan indeks acuan S&P 500.
Baca Juga: The Fed Mungkin Naikkan Suku Bunga dalam Waktu Dekat Aktivitas M&A Dorong Pendapatan Investment Banking Goldman Sachs juga menikmati lonjakan pendapatan dari bisnis investment banking di tengah maraknya transaksi merger dan akuisisi (M&A) bernilai jumbo. Data LSEG menunjukkan, nilai transaksi M&A global, khususnya kesepakatan senilai lebih dari US$ 10 miliar, mencapai rekor tertinggi pada semester pertama 2026. Kondisi tersebut mendorong pendapatan biaya jasa investment banking Goldman Sachs naik 55% menjadi US$ 3,40 miliar, didukung peningkatan aktivitas penerbitan saham, obligasi, serta layanan penasihat transaksi (
advisory). Aktivitas korporasi tetap kuat meski konflik di Timur Tengah memicu gejolak pasar. Banyak perusahaan tetap melanjutkan ekspansi, terutama untuk memperkuat bisnis berbasis kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI). Pada Mei lalu, Presiden Goldman Sachs John Waldron bahkan memperkirakan nilai transaksi M&A sepanjang 2026 berpotensi mendekati rekor yang tercipta pada 2021. Sepanjang semester pertama tahun ini, Goldman Sachs tercatat memberikan layanan penasihat untuk transaksi merger dan akuisisi dengan nilai lebih dari US$ 1 triliun, menjadi rekor tertinggi yang pernah dicapai sebuah bank investasi.
Baca Juga: Impor Minyak Sawit India Turun ke Level Terendah dalam 14 Bulan pada Juni Bisnis Pengelolaan Aset Tetap Tumbuh Di luar bisnis perdagangan dan investment banking, divisi asset and wealth management Goldman Sachs juga mencatatkan pertumbuhan yang solid.
Pendapatan unit tersebut naik 20% menjadi US$ 4,60 miliar, sejalan dengan strategi perusahaan memperbesar kontribusi bisnis pengelolaan aset agar pendapatan lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada bisnis trading maupun investment banking yang cenderung berfluktuasi. Sementara itu, dana kredit swasta (
private credit fund) milik Goldman Sachs juga mampu bertahan di tengah tekanan yang melanda industri. Sebelumnya, sejumlah pengelola kredit swasta menghadapi peningkatan permintaan penarikan dana dari investor akibat kekhawatiran dampak perkembangan AI terhadap model bisnis perusahaan-perusahaan perangkat lunak dalam portofolio mereka. Namun, Goldman Sachs menyatakan permintaan pembelian kembali (
repurchase request) pada kuartal II masih berada di bawah batas maksimum 5% yang telah ditetapkan perusahaan.