KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) tetap percaya diri dapat mencapai target pertumbuhan kinerja pada 2026 meski pendapatan dan laba bersih pada kuartal I-2026 mengalami penurunan tajam akibat mundurnya siklus pengadaan, terutama dari segmen pemerintah. Emiten yang bergerak di bisnis security printing ini membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di atas 10% sepanjang tahun 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh capaian order book dan tender yang telah diamankan perusahaan. Direktur JTPE Lukito Budiman mengungkapkan, hingga April 2026 perseroan telah mengamankan sekitar 60% dari target pendapatan tahun berjalan.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penjualan JTPE pada kuartal I-2026 turun 23,9% secara tahunan menjadi Rp 265,05 miliar, dari Rp 348,32 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan tersebut turut menekan laba bersih perseroan yang merosot 46,6% menjadi Rp 27,30 miliar, dibandingkan Rp 51,16 miliar pada kuartal I-2025. Meski demikian, segmen security printing masih menjadi penopang utama bisnis perusahaan, terutama dari produk identitas, kartu pembayaran (payment card), dan dokumen keamanan. Untuk menjaga pertumbuhan dalam jangka panjang, JTPE menyiapkan empat strategi utama tahun ini, yakni memperkuat bisnis inti security printing, memperluas ekspansi melalui usaha patungan (joint venture), meningkatkan investasi teknologi keamanan, serta mempercepat transformasi digital. Baca Juga: Strategi Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) Kejar Pertumbuhan Dobel Digit pada 2026 Perseroan juga terus mengembangkan lini bisnis baru yang mencakup teknologi RFID, biometrik, identitas digital (digital identity), hingga tanda tangan elektronik (e-sign). Salah satu langkah ekspansi dilakukan melalui pembentukan usaha patungan untuk mengembangkan bisnis RFID. Lukito mengatakan, bisnis baru tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Juli 2026 dan mulai berkontribusi terhadap pendapatan pada semester II tahun ini. "Kami berharap mulai komersial dan mulai mencatatkan revenue pada 1 Juli," katanya. Meski kontribusinya masih terbatas sekitar 1%-2% dari total pendapatan tahun ini, manajemen menilai bisnis RFID memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan baru pada masa mendatang. Untuk mendukung ekspansi dan modernisasi operasional, JTPE menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp 100 miliar pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk peremajaan mesin, modernisasi fasilitas produksi, serta penambahan mesin guna mendukung pengembangan usaha. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi, dan pelemahan rupiah, perseroan mengaku telah menyiapkan langkah mitigasi risiko. Baca Juga: Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) Sukses Cetak Kinerja Double Digit pada Tahun Buku 2025 Salah satunya melalui strategi lindung nilai (hedging) untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs terhadap biaya bahan baku dan proyek yang diperoleh melalui tender. "Dengan cara mengamankan setiap tender yang kami menangkan dengan hedging. Ini untuk mengurangi risiko kenaikan atau volatilitas kurs," ujar Lukito. Selain itu, JTPE juga memperkuat strategi pertumbuhan jangka panjang melalui pembentukan PT Nustek Global Solutions bersama CSmart IoT Indonesia pada 27 April 2026. Kehadiran usaha patungan tersebut diharapkan dapat mempercepat penetrasi perseroan ke bisnis teknologi identitas dan Internet of Things (IoT).