JAKARTA. Pembangunan pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) di Pati, masih terkendala. Perseroan melalui anak usahanya, yaitu PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) berencana membangun pabrik semen di kecamatan Tambakromo, Pati, Jawa Tengah. Namun, pelaksanaan pendirian pabrik tersebut masih harus menunggu sidang komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang akan dilaksanakan 30 Januari 2012.Direktur SMS Alexander Frans menyebut, prasyarat izin usaha pertambangan (IUP) sudah dipenuhi sejak awal. "Namun proses dokumen AMDAL masih akan diproses di sidang Komisi Amdal pada 30 Januari, pekan depan," ujarnya melalui rilis, Jumat (27/1).Alexander mengungkapkan, proses pengesahan kerangka acuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) terhambat akibat masih adanya penolakan dari kelompok masyarakat setempat. Saat ini, masih terdapat kelompok masyarakat yang menolak lantaran khawatir adanya eksploitasi lahan yang menimbulkan bencana alam baik kekeringan maupun banjir. "Kami masih dalam tahap pengesahan kerangka acuan Amdal," urainya.Nilai investasi pabrik yang perencanaannya sudah dimulai sejak 2010 ini mencapai Rp 2,7 triliun - Rp 4,5 triliun, dengan kapasitas produksi 8.000 ton semen per hari. Pabrik ini menempati lahan seluas 180 hektare, dengan rincian 150 hektare untuk tapak pabrik, dan 30 hektare untuk pendirian asrama dan fasilitas akses pabrik.Alexander menuturkan, pihaknya akan menjaga komitmen untuk menjaga keberlangsungan alam daerah Pati dengan mengelola sumber air dari sungai. "Proses produksi yang kami terapkan adalah sistem semen kering. Kebutuhan air hanya untuk sistem pendingin mesin dan jumlahnya juga tidak banyak," jelasnya.Corporate Secretary INTP Sahat Panggabean mengakui, timbulnya kekhawatiran masyarakat akan isu-isu lingkungan tersebut sebagai hal yang wajar. Pasalnya, setiap pembangunan pabrik pasti memiliki dampak. "Dampak jelas ada, tapi selama bisa dikelola dengan baik, dampak akan semakin kecil atau bahkan tidak ada," ungkapnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Pendirian pabrik semen di Pati masih tunggu Amdal
JAKARTA. Pembangunan pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) di Pati, masih terkendala. Perseroan melalui anak usahanya, yaitu PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) berencana membangun pabrik semen di kecamatan Tambakromo, Pati, Jawa Tengah. Namun, pelaksanaan pendirian pabrik tersebut masih harus menunggu sidang komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang akan dilaksanakan 30 Januari 2012.Direktur SMS Alexander Frans menyebut, prasyarat izin usaha pertambangan (IUP) sudah dipenuhi sejak awal. "Namun proses dokumen AMDAL masih akan diproses di sidang Komisi Amdal pada 30 Januari, pekan depan," ujarnya melalui rilis, Jumat (27/1).Alexander mengungkapkan, proses pengesahan kerangka acuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) terhambat akibat masih adanya penolakan dari kelompok masyarakat setempat. Saat ini, masih terdapat kelompok masyarakat yang menolak lantaran khawatir adanya eksploitasi lahan yang menimbulkan bencana alam baik kekeringan maupun banjir. "Kami masih dalam tahap pengesahan kerangka acuan Amdal," urainya.Nilai investasi pabrik yang perencanaannya sudah dimulai sejak 2010 ini mencapai Rp 2,7 triliun - Rp 4,5 triliun, dengan kapasitas produksi 8.000 ton semen per hari. Pabrik ini menempati lahan seluas 180 hektare, dengan rincian 150 hektare untuk tapak pabrik, dan 30 hektare untuk pendirian asrama dan fasilitas akses pabrik.Alexander menuturkan, pihaknya akan menjaga komitmen untuk menjaga keberlangsungan alam daerah Pati dengan mengelola sumber air dari sungai. "Proses produksi yang kami terapkan adalah sistem semen kering. Kebutuhan air hanya untuk sistem pendingin mesin dan jumlahnya juga tidak banyak," jelasnya.Corporate Secretary INTP Sahat Panggabean mengakui, timbulnya kekhawatiran masyarakat akan isu-isu lingkungan tersebut sebagai hal yang wajar. Pasalnya, setiap pembangunan pabrik pasti memiliki dampak. "Dampak jelas ada, tapi selama bisa dikelola dengan baik, dampak akan semakin kecil atau bahkan tidak ada," ungkapnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News