Penempatan Dana Perbankan di Surat Berharga Masih Tumbuh Awal 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Portofolio dana perbankan yang ditempatkan dalam Surat Berharga Negara (SBN) masih menunjukkan lonjakan signifikan pada awal tahun 2026.

Di tengah pertumbuhan kredit yang tetap positif, bank-bank nasional terlihat meningkatkan alokasi dana pada instrumen surat utang negara sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas dan mitigasi risiko.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan bank pada SBN per 11 Februari 2026 mencapai Rp 1.468,10 triliun.


Angka tersebut meningkat 24,31% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.180,99 triliun.

Sementara itu, data Bank Indonesia mencatat kredit yang disalurkan perbankan pada Januari 2026 mencapai Rp 8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2% YoY. Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,3%.

Permintaan Kredit Belum Pulih, Bank Lebih Hati-Hati

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai peningkatan kepemilikan SBN tidak terlepas dari lemahnya permintaan kredit dan sikap kehati-hatian perbankan di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Usai Rilis Kinerja Januari 2026, Prospek Saham Bank Mandiri Kian Mentereng

“Sentimennya adalah permintaan kredit yang belum membaik, di samping bank juga lebih berhati-hati melakukan ekspansi kredit di tengah kondisi global yang tidak menentu,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/2/2026).

Menurut Trioksa, selama imbal hasil (yield) SBN masih berada di atas biaya dana (cost of fund) perbankan, instrumen tersebut tetap menarik secara komersial.

Selain menawarkan potensi keuntungan, penempatan dana di SBN juga memiliki tingkat risiko yang lebih terukur dibandingkan penyaluran kredit.

“Selama rate SBN masih di atas biaya dana, bank masih melihat adanya potensi keuntungan dengan tingkat risiko yang dapat diperhitungkan,” jelas Trioksa.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kepemilikan SBN umumnya berimplikasi pada perlambatan pertumbuhan kredit karena sebagian likuiditas dialihkan dari fungsi intermediasi ke surat utang negara.

“Umumnya ketika penempatan SBN naik, pertumbuhan kredit akan melambat, terutama akibat pengalihan dana ke SBN,” katanya.

Ke depan, tren penempatan dana di SBN dinilai sangat bergantung pada pemulihan permintaan kredit dan daya beli masyarakat.

“Tren tahun ini masih sangat bergantung pada permintaan kredit dan perbaikan daya beli masyarakat. Bila membaik, maka kredit akan kembali bertumbuh,” tutupnya.

BCA, BNI, dan Bank Mandiri Tingkatkan Penempatan di SBN

Sejumlah bank besar mencatatkan kenaikan signifikan pada portofolio surat berharga mereka.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 430,34 triliun pada Januari 2026, meningkat 15,84% YoY. Adapun penyaluran kredit pada periode yang sama mencapai Rp 948,95 triliun atau tumbuh 6,26% YoY.

Baca Juga: Korporasi Masih Menumpuk Dana di Perbankan, Pengusaha Menahan Ekspansi?

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan bahwa strategi tersebut merupakan bagian dari pengelolaan likuiditas perusahaan.

"Strategi ini juga dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. Tentunya fungsi utama dari perbankan adalah sebagai sarana intermediasi ekonomi dalam artian penyaluran kredit," kata Hera.

Ia menegaskan bahwa BCA senantiasa mengelola likuiditas secara pruden dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat lonjakan penempatan dana di surat berharga sebesar 36,82% YoY menjadi Rp 197,01 triliun pada Januari 2026. Di saat yang sama, penyaluran kredit BNI mencapai Rp 894,29 triliun atau tumbuh 19,27% YoY.

Adapun PT Bank Mandiri Tbk membukukan kenaikan penempatan di SBN sebesar 29,13% YoY menjadi Rp 292,57 triliun pada Januari 2026. Penyaluran kreditnya juga tumbuh 15,62% YoY menjadi Rp 1.511,4 triliun.

CIMB Niaga dan KB Bank Fokus Likuiditas dan Kualitas Kredit

Berbeda dengan tren tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat penurunan penempatan pada surat berharga. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut likuiditas perseroan lebih difokuskan untuk mendukung pertumbuhan kredit sektor riil.

"Kami fokuskan likuiditas untuk pertumbuhan di real bisnis sektor. SBN kami yoy turun sekitar 10%," ucap Lani.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan likuiditas yang kuat. "Fokus kami ke likuiditas dan dana pihak ketiga," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bank), Kunardy Darma Lie, menyampaikan bahwa posisi penempatan dana di SBN relatif terjaga dan dikelola secara dinamis sesuai kebutuhan likuiditas dan strategi ekspansi kredit.

"Pengelolaan portofolio dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan profil risiko," kata Kunardy.

Baca Juga: Menengok Efisiensi Perbankan Sepanjang Tahun 2025

Ia menegaskan, SBN tetap berperan sebagai instrumen manajemen likuiditas dan stabilitas neraca di tengah dinamika pasar. Penyaluran kredit dilakukan secara selektif dengan fokus pada kualitas debitur dan risk-adjusted return yang sehat.

"Secara komposisi, fungsi intermediasi tetap menjadi prioritas utama. Saat ini kredit masih mendominasi aktiva produktif Bank sekitar 61%, sedangkan penempatan pada SBN sekitar 7%," ujarnya.

Kunardy menambahkan, hal tersebut mencerminkan bahwa SBN lebih berfungsi sebagai instrumen pendukung likuiditas, bukan substitusi kredit.

Per Desember 2025, penempatan dana KB Bank di surat berharga tercatat turun 10,39% menjadi Rp 18,96 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit meningkat 7,04% menjadi Rp 44,37 triliun.

Sejalan dengan arah kebijakan regulator, KB Bank tetap menargetkan pertumbuhan kredit yang konstruktif dan berkualitas sepanjang 2026, dengan ekspansi bertahap sambil menjaga kualitas aset dan permodalan agar pertumbuhan berlangsung berkelanjutan.

Selanjutnya: Hujan Lebat Cuma di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (26/2) Jabodetabek

Menarik Dibaca: Hujan Lebat Cuma di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (26/2) Jabodetabek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News