KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank Himbara belum mampu meredakan tekanan biaya dana atau
cost of fund (CoF) bank swasta. Persaingan menghimpun dana masih ketat, sehingga kenaikan biaya dana berisiko menekan margin bunga dan pertumbuhan laba bank swasta hingga akhir 2026. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menambah penempatan dana SAL sebesar Rp 40 triliun di bank-bank Himbara pada 5 Agustus 2026. Dengan tambahan tersebut, total dana SAL yang ditempatkan di perbankan mencapai Rp 421 triliun.
Baca Juga: Dana Pensiun BCA Catat Kenaikan Aset Jadi Rp 6,12 Triliun per Maret 2026 Tambahan likuiditas tersebut memang memberi ruang bagi Himbara memperoleh sumber dana dengan biaya relatif murah. Namun, efeknya belum merata ke seluruh industri perbankan karena likuiditas masih terkonsentrasi pada kelompok bank tertentu. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Muhammad Rizal Taufikurahman mengatakan, bank swasta dengan porsi dana murah atau
current account saving account (CASA) rendah masih menghadapi tekanan CoF. Kondisi ini membuat persaingan memperoleh dana nasabah tetap tinggi. "Isu utamanya bukan hanya likuiditas cukup, tetapi seberapa merata likuiditas tersebar di industri perbankan," kata Rizal. Tekanan CoF menjadi perhatian karena kenaikan biaya penghimpunan dana dapat mempersempit selisih antara pendapatan bunga kredit dan biaya bunga dana.
Baca Juga: Penerimaan Iuran Dana Pensiun Konvensional Naik 9,82% per Maret 2026 Jika bank tidak mampu mengimbangi kenaikan tersebut melalui pertumbuhan kredit atau penyesuaian harga kredit, margin bunga bersih atau
net interest margin (NIM) berpotensi tertekan. Rizal menilai tekanan CoF masih berpeluang bertahan hingga akhir 2026. Karena itu, bank swasta perlu memperbesar porsi dana murah, memperkuat ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah, serta melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Strategi tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan perang bunga deposito untuk merebut dana. Direktur Risk, Compliance, and Legal Allo Bank Ganda Raharja Rusli mengatakan, penempatan dana SAL mulai membantu meredakan tekanan likuiditas industri. Namun, dampaknya terhadap biaya dana belum dapat langsung terlihat karena tambahan dana pemerintah masih relatif baru. Allo Bank masih memantau perkembangan likuiditas sebelum menentukan langkah pendanaan berikutnya. Penurunan CoF tetap terbuka apabila tambahan likuiditas mulai mendorong perubahan kondisi pasar dana dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Jaga Keberlanjutan Pembayaran Manfaat, OJK Dorong Dana Pensiun Terapkan Strategi Ini Sementara itu, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan belum melihat penurunan biaya dana maupun persaingan dalam menghimpun dana. Menurut dia, arah biaya dana hingga akhir 2026 masih bergantung pada sejumlah faktor, termasuk BI rate, kondisi likuiditas perbankan, serta perkembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tekanan juga dirasakan KB Bank. Direktur KB Bank Widodo Suryadi menyebut biaya dana meningkat seiring kenaikan BI rate. Untuk menjaga efisiensi, bank akan lebih selektif dalam menawarkan bunga simpanan dan mendorong kenaikan rasio CASA.
Dengan demikian, tambahan dana SAL belum menjadi solusi langsung bagi bank swasta untuk menurunkan CoF.
Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri: SRBI Menarik sebagai Instrumen Investasi Jangka Pendek Di tengah persaingan dana yang masih ketat, kemampuan meningkatkan CASA akan menjadi faktor penting untuk menjaga NIM sekaligus mempertahankan pertumbuhan laba hingga akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News