Penerbangan Asia-Pasifik Tumbuh 5,1%, Kebutuhan Pesawat Capai 19.120 Unit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri penerbangan Asia-Pasifik diperkirakan menghadapi lonjakan kebutuhan armada dalam dua dekade ke depan. Pertumbuhan lalu lintas penumpang yang lebih cepat dibandingkan rata-rata global membuat kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat utama ekspansi penerbangan dunia hingga 2045.

Proyeksi tersebut tercantum dalam Global Market Forecast (GMF) 2026-2045 terbaru yang dirilis Airbus. Dalam laporan tersebut, pertumbuhan lalu lintas penumpang di Asia-Pasifik diperkirakan mencapai compound annual growth rate (CAGR) 5,1%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 3,9%.

Volume lalu lintas penumpang di kawasan Asia-Pasifik juga diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang periode proyeksi.


President Airbus Asia-Pacific Anand Stanley mengatakan, kawasan Asia-Pasifik diperkirakan membutuhkan 19.120 pesawat penumpang baru hingga 2045. Jumlah tersebut setara dengan 45% dari total permintaan global yang mencapai 42.060 pesawat baru.

Baca Juga: Dharma Polimetal (DRMA) Gandeng Minth Group Bangun Pabrik Komponen EV

“Dari total 19.120 pesawat penumpang baru yang dibutuhkan Asia-Pasifik dalam dua dekade mendatang, sepertiganya akan digunakan untuk peremajaan armada, sedangkan sisanya untuk mendukung pertumbuhan,” ungkap Anand, Selasa (15/9/2026).

Kebutuhan Pesawat Widebody Meningkat

Berdasarkan kategori ukuran pesawat, Asia-Pasifik diproyeksikan menyerap porsi terbesar dari pengiriman pesawat berbadan lebar atau widebody di dunia.

Permintaan pesawat widebody baru di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 3.420 unit, atau hampir separuh dari total kebutuhan pesawat berbadan lebar baru secara global.

Airbus menilai posisinya cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan maskapai di segmen tersebut melalui keluarga A350 dan A330neo.

Dalam tiga tahun terakhir, kedua lini produk tersebut telah membantu Airbus meningkatkan pangsa backlog pesawat widebody di Asia-Pasifik menjadi 50%. Airbus juga mencatat A350 semakin menguat sebagai salah satu pilihan utama maskapai di kawasan untuk penerbangan antarbenua jarak jauh.

Pada kategori terbesar Airbus, A350-1000 disebut menjadi penerus alami bagi 777-300ER.

Baca Juga: Menjajal Toyota New Land Cruiser 300 Hybrid EV di Gumuk Pasir, Ini Jeroannya

Pesawat Single-Aisle Dominasi Permintaan

Meski kebutuhan pesawat berbadan lebar cukup besar, permintaan armada di Asia-Pasifik tetap didominasi oleh pesawat lorong tunggal atau single-aisle.

Airbus memperkirakan kawasan tersebut membutuhkan 15.700 pesawat berkapasitas 100-244 kursi hingga 2045.

Kebutuhan tersebut mencerminkan ekspansi jaringan penerbangan domestik dan intrakawasan yang masih berlanjut. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kebutuhan peremajaan armada sekaligus peningkatan kapasitas penerbangan dalam jangka panjang.

Peningkatan konektivitas juga didukung pembangunan strategis infrastruktur bandara baru serta pengoperasian pesawat single-aisle dengan kemampuan jelajah lebih jauh, seperti A321XLR dan A220.

“Hal ini membuka koneksi antarkota baru, memungkinkan pesawat melewati mega-hub tradisional, dan menghubungkan kota-kota sekunder secara langsung,” ucapnya.

Di Asia-Pasifik, Airbus melihat peluang ekspansi yang kuat untuk segmen tersebut. Pesawat A220, misalnya, berpotensi membuka lebih dari 800 rute antarkota baru yang saat ini belum terlayani.

Baca Juga: XLSmart Dorong Implementasi Ekonomi Sirkular lewat Pengelolaan E-Waste

“Seiring dengan berlanjutnya ekspansi rute penerbangan jarak jauh, maskapai juga semakin beralih dari model hub-and-spoke tradisional dengan menghubungkan kota-kota sekunder secara langsung ke perekonomian global. Dengan memanfaatkan teknologi pesawat generasi terbaru, maskapai di kawasan ini sedang menyusun ulang peta konektivitas dan mendorong kemakmuran ekonomi jangka panjang di kawasan,” jelasnya.

Airbus Kuasai 58% Pasar Asia-Pasifik

Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 119 maskapai di Asia-Pasifik tercatat mengoperasikan sekitar 5.000 pesawat komersial Airbus.

Jumlah tersebut membuat Airbus menguasai pangsa pasar sebesar 58% di kawasan Asia-Pasifik.

Selain armada yang sudah beroperasi, hampir 3.500 pesawat Airbus lainnya telah dipesan dan akan dikirimkan kepada maskapai di kawasan tersebut pada masa mendatang.

Angka itu setara dengan 61% dari total backlog seluruh produsen pesawat untuk segmen pesawat jet berkapasitas lebih dari 100 kursi di pasar Asia-Pasifik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News