KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingginya minat investor akan aset berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) membuat lebih banyak perusahaan yang menerbitkan obligasi berbasis segmen ESG. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), pada tahun 2025 penerbitan surat utang ESG mencapai Rp 35,56 triliun. Realisasi penerbitan surat utang ESG sepanjang tahun lalu menurut data Pefindo meningkatkan 146% dibanding penerbitan di tahun 2024 yang hanya sebesar Rp 14,47 triliun. Jumlah emiten yang melakukan penerbitan tersebut terdiri dari 10 perusahaan. Secara sektoral, sebagian besar nilai penerbitan Surat Utang ESG masih berasal dari sektor perbankan dengan persentase 71,1% dari total nilai penerbitan. Kemudian disusul dari sektor Non-Multifinance Financing 20,4% serta Special Purpose Financial Institution 7,03%. Adapun sektor property hanya memiliki share nilai penerbitan sebesar 1,4% dari total nilai penerbitan.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (18/2) Pagi, NAB Cetak Rekor dan BlueScope Melonjak Menurut Pefindo, penerbitan Surat Utang ESG baru mulai semarak sejak tahun 2022, setelah sebelumnya penerbitan terakhir dilakukan pada 2018. "Penerbitan surat utang ESG yang pertama kali dilakukan pada tahun 2018 diawali dengan nilai Rp 500 miliar,” terang Chief Economist Pefindo, Suhindarto. Namun setelah itu, pada tahun 2019 dan saat periode pandemi tahun 2020 dan 2021 tidak ada penerbitan surat utang ESG yang dilakukan. Penerbitan surat utang ESG baru terealisasi kembali pada tahun 2022. Nilainya sebesar Rp 10 triliun dengan sektor perbankan sebagai penerbitnya. Setelah itu, nilai penerbitan surat utang ESG terus mengalami peningkatan meskipun dengan tingkat pertumbuhan yang masih berfluktuasi. Nilai penerbitan surat utang ESG pada tahun 2023 tumbuh 36% menjadi Rp13,61 triliun. Setelahnya, pertumbuhan hanya berada di level 6% menjadi Rp 14,47 triliun. "Pertumbuhan pada tahun 2025 kemudian mengalami lonjakan, yaitu sebesar 146% dan membuat realisasi penerbitan selama setahun mencapai Rp 35,56 triliun,” kata Chief Economist Pefindo, Suhindarto. Penerbitan surat utang berbasis ESG di tahun 2025 tumbuh jauh lebih besar karena kondisi pasar yang mendukung. Salah satunya faktor utama menurut Pefindo adalah imbal hasil alias yield benchmark yang menurun. "Imbal hasil rendah telah mendorong kenaikan penerbitan surat utang korporasi secara umum dan surat utang ESG secara khusus,” papar Suhindarto. Berdasarkan data Pefindo sepanjang tahun 2025, penerbitan obligasi korporasi mencapai all time high bahkan melampaui rekor tertinggi baru melampaui tahun 2017. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari - Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun. Pendapat Suhindarto, hal utama yang mempengaruhi kenaikan penerbitan surat utang ESG adalah semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsep ESG. Hal ini mendorong permintaan yang relatif besar dari sisi investor.
Baca Juga: Wall St Bergerak Fluktuatif, Isu AI hingga Perundingan Nuklir AS–Iran Bayangi Pasar Dari sisi supply, para emiten yang telah memiliki kapabilitas untuk menerbitkan surat utang berbasis ESG juga mengambil momen dari pasar yang terus berkembang ini. Selain itu, dukungan dari otoritas terkait juga semakin meningkatkan kondisi soliditas penerbitan surat utang berbasis ESG. Implementasi Taksonomi Keberlanjutan Indonesia memperluas klasifikasi aktivitas ekonomi hijau ke sektor non-energi seperti pertanian, manufaktur, dan pengelolaan limbah; kewajiban pelaporan ESG yang menjadi faktor pendorong dari sisi emiten; serta POJK 18/2023 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang dan Sukuk Berlandaskan Keberlanjutan telah turut mendukung perkembangan penerbitan selama dua tahun terakhir. Kondisi pasar surat utang korporasi saat ini sudah lebih mendukung untuk penerbitan surat utang ESG. Dengan kesadaran investor yang meningkat, dan emiten yang mencoba untuk memanfaatkan pasar yang sedang berkembang, hal ini menciptakan landasan yang baik bagi pertumbuhan yang terus menerus di masa depan.
Imbal hasil
Jika menengok dari sisi imbal hasil menurut Pefindo, surat utang yang berbasis ESG dan obligasi konvensional tidak banyak memiliki selisih bunga yang cukup besar. "Sejauh ini kami tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan antara kupon dari instrumen surat utang konvensional dengan yang berbasiskan ESG,” ujar Suhindarto. Namun jika dilihat secara data perbedaan yang terjadi dari sisi kupon biasanya hanya relatif sedikit. Secara umum, menurut Pefindo belum ada pola khusus yang terbentuk dan mengkonfirmasi bahwa penerbitan surat utang ESG menghasilkan kupon yang relatif lebih rendah atau berbiaya lebih murah. Pefindo memberi perbandingan surat utang ESG peringkat AAA tenor tiga tahun pada November 2025 memberi kupon sebesar 5,5%. Sedangkan surat utang konvensional dengan peringkat dan tenor yang sama memberi bunga lebih besar yakni 5,75% per tahun. Namun kondisi ini berbeda di bulan Oktober 2025, surat utang ESG justru memberi rata-rata bunga sebesar 5,75%. Sementara obligasi konvensional memberi rata-rata bunga sebesar 5,65% per tahun. Tren yang baik yang terjadi belakangan ini menurut Pefindo perlu terus didukung dan didorong oleh otoritas terkait. Antusiasme investor akan instrumen-instrumen investasi bertema ESG perlu dijembatani dengan akses pasar yang semakin baik.
Baca Juga: Jejak Smart Money (13 Februari 2026): Berburu Saham Hidden Gems di Balik Koreksi IHSG Market maker pada pasar instrumen surat utang ESG perlu terus dikuatkan, nominal transaksi minimal perlu dibuat seterjangkau mungkin, serta digitalisasi perlu ditingkatkan. "Selain itu, insentif bagi emiten juga perlu terus didorong (bisa berupa subsidi kupon, subsidi biaya penerbitan, dsb) agar semakin banyak perusahaan yang berminat untuk menerbitkan surat utang berbasiskan ESG,” pendapat Suhindarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News