Penerbitan Obligasi Global Menembus Rekor



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penerbitan obligasi global melalui sindikasi publik telah menembus US$ 1 triliun di awal tahun hingga 2 Februari 2026. Ini merupakan rekor penerbitan tercepat sepanjang sejarah, seiring para penerbit memanfaatkan lonjakan permintaan investor untuk mengunci biaya pinjaman yang relatif murah.

Berdasarkan data Bloomberg dikutip Selasa (3/2), ambang US$1 triliun tercapai pada setelah Oracle menerbitkan obligasi senilai US$25 miliar pada Senin (2/2), yang menjadi penjualan obligasi korporasi terbesar tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, angkat tersebut baru diraih pada 7 Februari 2024 dan 11 Februari 2025.

Lebih dari 40% total penerbitan tahun ini berasal dari obligasi pemerintah. Sementara itu, lembaga keuangan menyumbang hampir 35% dari total pasokan, termasuk transaksi rekor US$16 miliar oleh Goldman Sachs.


Baca Juga: China Terbitkan Obligasi Global US$4 Miliar Usai Ketegangan Dagang dengan AS Mereda

Porsi penerbitan dari perusahaan non-keuangan, khususnya sektor teknologi, diperkirakan akan meningkat seiring rilis laporan keuangan kuartalan dan berakhirnya masa pembatasan penerbitan obligasi (earnings blackout).

Sejumlah perusahaan besar seperti AT&T dan IBM telah menerbitkan obligasi dalam jumlah besar pada akhir pekan lalu, dan tren ini diperkirakan berlanjut. Menurut analis JPMorgan Chase, Februari dan Maret secara historis menjadi periode tersibuk penerbitan obligasi bagi sektor teknologi, media, dan telekomunikasi dalam empat tahun terakhir.

Penerbitan obligasi Oracle terjadi di tengah proyeksi kebutuhan pendanaan lebih dari US$3 triliun untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Obligasi Jangka Panjang Tertekan, Tren Baru Menguat di Pasar Global

Di sisi lain, kekhawatiran soal terlalu optimistisnya pasar (complacency) masih membayangi, menyusul rekor penerbitan obligasi global pada 2025 dan tingginya permintaan investor yang menekan spread pinjaman ke level terendah dalam beberapa dekade. Sejumlah manajer investasi mulai mengurangi pembelian obligasi korporasi.

Awal 2026 juga diwarnai berbagai rekor, termasuk Januari tersibuk sepanjang sejarah untuk penerbitan obligasi berdenominasi euro dan obligasi korporasi berkualitas tinggi (investment grade) di AS. Selain itu, pasar kredit lain juga sangat aktif dimana pekan lalu menjadi yang tersibuk untuk penerbitan leveraged loan di Eropa dan Januari mencatat salah satu periode tersibuk di AS.

Selanjutnya: Rupiah Menguat Menjadi Rp 16.754 per Dolar AS Didukung Sentimen Ini

Menarik Dibaca: Indonesia Pimpin Tingkat Kebahagiaan di Tempat Kerja di Asia Pasifik, Ini Penyebabnya