KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah masih tingginya biaya pendanaan, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi kembali cukup solid pada kuartal IV 2026, utamanya disokong oleh kebutuhan
refinancing. Pefindo memperkirakan penerbitan surat utang korporasi sepanjang kuartal IV 2026 dapat berada di kisaran Rp 24 triliun-Rp 33 triliun.
Chief Economist Pefindo Suhindarto mengatakan, proyeksi tersebut telah mempertimbangkan realisasi penerbitan surat utang korporasi yang telah mencapai Rp 120,18 triliun hingga Agustus 2026, mandat Pefindo sebesar Rp 45,89 triliun per Agustus, serta profil jatuh tempo hingga akhir tahun.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.622 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (11/9), Terlemah di Asia Sebelumnya, Pefindo memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada sepanjang 2026 akan berada di kisaran Rp 154 triliun-Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 175,77 triliun. Suhindarto mengatakan, untuk mencapai batas bawah proyeksi penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 sebesar Rp 154 triliun itu, masih dibutuhkan tambahan penerbitan sekitar Rp 33,82 triliun pada September-Desember. "Dari sisi
refinancing, sekitar Rp 43,56 triliun surat utang akan jatuh tempo pada kuartal IV, atau sekitar 71% dari total jatuh tempo September-Desember yang sebesar Rp 60,96 triliun," jelas Suhindarto kepada Kontan, Kamis (10/9/2026). Dengan asumsi penerbitan mengikuti kebutuhan refinancing dan sebagian pipeline yang tersedia, Suhindarto membidik aktivitas penerbitan pada kuartal IV masih berpotensi cukup solid. Meskipun, penerbitan diperkirakan belum tentu kembali setinggi kuartal I 2026. "Kebutuhan refinancing menjadi penopang utama karena relatif lebih sulit ditunda dibandingkan pendanaan untuk ekspansi. Namun, yield dan biaya dana yang masih tinggi dapat membuat perusahaan lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan besaran penerbitan," lanjutnya. Karena itu, Suhindarto bilang, penerbitan pada akhir tahun kemungkinan lebih banyak berasal dari perusahaan dengan kebutuhan refinancing yang jelas serta issuer dengan kualitas kredit yang kuat.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Turun 14,54%, Pefindo Ungkap Penyebabnya Lebih lanjut Suhindarto merinci, surat utang korporasi yang jatuh tempo pada kuartal IV 2026 mencapai sekitar Rp 43,56 triliun. Rinciannya terdiri dari Rp 12,86 triliun pada Oktober, Rp 14,61 triliun pada November, dan Rp 16,09 triliun pada Desember. Nilai jatuh tempo tersebut memang lebih rendah dibandingkan puncak pada kuartal III 2026 yang mencapai Rp 63,95 triliun. Namun, jumlah tersebut masih cukup besar untuk menopang kebutuhan refinancing hingga akhir tahun. "Secara keseluruhan, jatuh tempo surat utang korporasi pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 162,72 triliun," tandas Suhindarto. Di sisi lain, biaya pendanaan melalui obligasi korporasi masih relatif tinggi pada kuartal IV, meskipun tekanan yield telah berkurang dibandingkan puncaknya pada pertengahan tahun. Suhindarto mencatat, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun mencapai level tertinggi pada 11 Juni 2026. Yield untuk peringkat AAA mencapai 7,91%, AA sebesar 8,17%, A sebesar 9,76%, dan BBB sebesar 11,49%. Namun, hingga 9 September 2026, yield tersebut telah turun masing-masing menjadi 7,43% untuk AAA, 7,67% untuk AA, 8,49% untuk A, dan 10,55% untuk BBB.
Baca Juga: Harga Emas Kembali Tertekan, Cermati Sejumlah Pemicunya "Artinya, pasar sudah mengalami perbaikan, tetapi biaya pendanaan belum kembali ke level akhir 2025," katanya. Jika dibandingkan posisi 31 Desember 2025, yield obligasi korporasi per 9 September 2026 masih lebih tinggi sekitar 101-177 basis poin, tergantung peringkat kredit.
Kondisi tersebut mengindikasikan kupon penerbitan obligasi korporasi baru masih berpotensi berada di level relatif tinggi. Pasalnya, issuer perlu menawarkan imbal hasil yang kompetitif terhadap yield pasar dan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai benchmark. Tekanan biaya pendanaan juga tidak sama bagi setiap perusahaan. Emiten dengan peringkat kredit tinggi relatif lebih resilien karena dapat memperoleh biaya pendanaan yang lebih rendah. Sebaliknya, issuer dengan peringkat lebih rendah harus menawarkan premi yang lebih besar untuk menarik investor. "Karena itu, biaya pendanaan masih dapat menjadi hambatan pada kuartal IV, terutama bagi issuer dengan kualitas kredit yang lebih rendah, meskipun kebutuhan refinancing tetap dapat menjaga aktivitas penerbitan," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News