Penerbitan Obligasi Korporasi pada Semester II Diproyeksi Tetap Terjaga



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi pada semester II – 2026 masih punya prospek yang baik. Hal ini karena banyaknya obligasi korporasi jatuh tempo pada periode tersebut. 

Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi pada semester II ditopang oleh kebutuhan refinancing perusahaan. Sebab, obligasi korporasi yang jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp 107,51 triliun.

Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan tetap stabil, seiring dengan kebijakan fiskal yang ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan. Ia juga melihat permintaan investor masih kuat seiring dengan investor yang mencari alternatif imbal hasil di tengah tertekannya pasar saham. 


Baca Juga: Saham JELI Mentok ARA Dua Hari Beruntun, Dana IPO Difokuskan untuk Inovasi Produk

“Penerbitan baru surat utang 2026 diperkirakan akan berkisar Rp 154 triliun – Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun. Untuk realisasinya di semester I sudah Rp 87,35 triliun,” ucap Hendro dalam konferensi pers, Rabu (8/7/2026). 

Selain itu, berdasarkan mandat pemeringkatan surat utang yang diterima Pefindo, terdapat 43 perusahaan dari berbagai sektor yang berencana menerbitkan obligasi korporasi dengan total jumlah Rp 50,81 triliun. Meski begitu, jumlah tersebut bukan angka yang pasti terealisasi karena hal itu masih disebut sebagai rencana penerbitan obligasi korporasi. 

Adapun dilihat dari sektor, Pefindo mencatat tiga perusahaan sektor pertambangan berencana menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 6,3 triliun, 3 perusahaan sektor perbankan sebesar Rp 5,03 triliun, 3 perusahaan induk sebesar Rp 5 triliun, dan 4 perusahaan sektor pembiayaan sebesar Rp 4,5 triliun, dan 2 perusahaan sektor kehutanan, pulp, dan kertas berencana menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 3,96 triliun. 

Dilihat dari jenis institusinya, 30 perusahaan swasta berencana menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 36,65 triliun dan 13 perusahaan BUMN berencana menerbitkan obligasi korporasi sebesar Rp 14,16 triliun. 

“Mungkin nanti dalam perjalanannya akan dilihat lagi bagaimana kondisi pasar, penerimaan dari investor, dan mungkin dari sisi perusahaan apakah ada perubahan dari sisi kebutuhan sehingga mungkin terjadi perubahan nilai penerbitan realisasi dibanding rencana awal,” jelas Hendro. 

Hendro menambahkan, tantangan yang perlu dicermati terkait obligasi korporasi antara lain risiko geopolitik dan hawkish di pasar AS dapat meningkatkan volatilitas dan mendorong kenaikan yield benchmark. Yield acuan yang tinggi akibat suku bunga tinggi, tekanan terhadap rupiah, penerbitan SBN, dan persaingan dengan SRBI. 

Ia juga memperkirakan investor lebih selektif terhadap rating A ke atas, sehingga penerbitan dari rating lebih rendah tetap terbatas. Serta kupon kurang kompetitif bagi emiten berperingkat kategori A (single-A) ke bawah dibandingkan dengan mengakses kredit perbankan. 

“Dari pandangan kami peringkat single A ke atas yang cukup menarik di mata investor sebagai produk investasi, ini menyebabkan peringkat yang di bawah single A lebih challenging ya untuk menerbitkan surat utang,” kata Hendro. 

Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana menilai investor dapat mencermati obligasi korporasi dengan peringkat dan fundamental perusahaan yang baik. Menurutnya, ditengah volatilitas global, investor dapat mencermati obligasi tenor pendek antara tenor 1 tahun sampai 3 tahun. Investor juga perlu masuk pada obligasi pemerintah dan/atau instrumen money market untuk menjaga likuiditas dan imbal hasil. Fikri memperkirakan spread antara surat berharga negara (SBN) dengan obligasi korporasi peringkat AAA ke depan berkisar 40 sampai 80 basis poin (bps).

Baca Juga: Hari Ini Cum Dividen Saham PBSA Rp 6.000/Lot, Waspada Harga Saham Sudah Naik Tinggi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News