Penerbitan Obligasi Korporasi Turun Sepanjang Semester I, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang korporasi tidak cukup semarak di sepanjang semester pertama tahun 2023. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai hal tersebut karena adanya tekanan suku bunga tinggi.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah penerbitan surat utang korporasi secara nasional sebesar Rp 46.31 triliun. Jumlah tersebut turun 36% dari penerbitan surat utang korporasi pada semester I-2022 yang tercatat sebesar Rp 72.73 triliun.

Direktur Utama Pefindo Irmawati Amran mengungkapkan bahwa penerbitan surat utang dan diperingkat oleh Pefindo juga turun jumlahnya. Dari awal tahun hingga akhir Juni 2023, Pefindo telah membantu menerbitkan surat utang korporasi sebesar Rp 31,44 triliun. Jumlah itu berkurang sekitar 48% dibandingkan posisi tahun lalu dalam periode yang sama sebesar Rp 60,50 triliun.


Lesunya penerbitan pada semester pertama tahun ini salah satunya karena perusahaan masih mewanti-wanti tingkat suku bunga yang berada di level tinggi. Emiten umumnya mengharapkan suku bunga yang rendah agar tidak terbebani biaya kupon atau bunga selama obligasi diterbitkan.

Baca Juga: Pefindo Kantongi Mandat Penerbitan Obligasi Rp 61,30 Triliun Hingga Akhir Semester I

“Perusahaan masih menunggu kondisi pasar yang lebih baik,” kata Irmawati dalam Media Forum Pefindo, Jumat (7/7).

Ekonom Pefindo Suhindarto menjelaskan, kebijakan moneter ketat masih terus diterapkan oleh berbagai negara untuk menekan laju inflasi yang memang perkembangannya masih sulit diturunkan. Misalnya di negara maju, inflasi Amerika Serikat (AS) masih berada di level 4% yang merupakan dua kali lipat dari target penurunan inflasi 2%.

Jika melihat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada awal tahun 2022 sebesar 3,50%, sementara pada awal tahun 2023 suku bunga acuan sudah mencapai 5,75%.  Suku bunga acuan yang lebih tinggi akan menghasilkan kupon yang lebih tinggi dan membuat biaya penerbitan surat utang korporasi relatif lebih tinggi.

Menurut Darto, penerbitan obligasi korporasi yang terlihat lebih rendah di tahun ini sebenarnya juga karena emiten sudah beramai-ramai menerbitkan obligasi di tahun lalu saat kondisi bunga rendah. Perusahaan sudah berekspektasi bahwa kenaikan suku bunga akan berkepanjangan.

Selain itu, angka penerbitan surat utang yang lebih rendah disebabkan oleh nilai jatuh tempo yang memang jauh lebih rendah. Pefindo mencatat surat utang korporasi yang akan jatuh tempo di 2023 sekitar Rp 126,9 triliun, lebih rendah dari tahun 2022 sebesar Rp 157,04.

“Penurunan penerbitan pada tahun 2023 disebabkan oleh nilai surat utang jatuh tempo yang lebih rendah dan juga tingkat suku bunga yang lebih tinggi,” jelas Darto dalam kesempatan yang sama.

Adapun hingga semester pertama 2022, total outstanding surat utang korporasi mencapai Rp 465,7 triliun. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan akhir 2022 yang sebesar Rp 468,6 triliun.

Sementara, penerbitan efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) tercatat sebesar Rp 45,1 triliun yang masih jauh dibandingkan capaian tahun 2022 sebesar Rp 154,9 triliun.

Baca Juga: Pefindo Beri Peringkat idAAA untuk Obligasi Hijau Milik Bank Mandiri

Kendati demikian, Irmawati berujar, turunnya penerbitan surat utang korporasi di Indonesia juga sejalan dengan turunnya penerbitan di negara-negara serupa diantaranya Malaysia.

Per kuartal I-2023, Indonesia mencatatkan nilai outstanding obligasi korporasi sebesar US$ 29,9 miliar dibandingkan US$ 28,6 miliar pada kuartal I tahun 2022. Dari situ, penerbitan obligasi korporasi di Indonesia tercatat hanya US$ 1,8 miliar pada kuartal I-2023, sementara penerbitan baru sebesar US$10,1 miliar di kuartal I-2022.

Sementara, Malaysia di kuartal I-2023 mencatat nilai outstanding obligasi korporasi sebesar US$ 186,0 miliar dibandingkan US$ 185,2 miliar pada kuartal I tahun 2022. Dari situ, penerbitan obligasi korporasi Malaysia terpantau hanya US$ 7 miliar pada kuartal I-2023, sementara penerbitan baru sebesar US$ 43,3 miliar di kuartal I-2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi