Penerbitan Obligasi Pemerintah Jepang Bisa Melonjak 28% Hingga 2029



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang kemungkinan akan mengalami lonjakan penerbitan obligasi tahunan sebesar 28% dalam tiga tahun mendatang. Penyebabnya, meningkatnya biaya pembiayaan utang.

Proyeksi tersebut didasarkan pada skenario yang mengasumsikan pertumbuhan ekonomi nominal sebesar 1,5% dan tingkat inflasi rata-rata 1% dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10 tahun bergerak pada 3,0%.

Dalam skenario yang mengasumsikan pertumbuhan nominal 3% dan tingkat inflasi 2%, biaya pembayaran utang akan mencapai ¥ 41,3 triliun pada tahun fiskal 2029.


Baca Juga: Takaichi Pangkas Pajak, Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Jepang Melonjak

Berdasarkan dokumen Kementerian Keuangan Jepang yang diperoleh Reuters, Jepang perlu menerbitkan obligasi senilai hingga ¥ 38 triliun pada tahun fiskal yang dimulai April 2029. Dana ini perlu untuk menutupi defisit akibat pengeluaran yang melebihi pendapatan pajak, naik dari ¥ 29,6 triliun di tahun fiskal 2026.

Meskipun pendapatan pajak diperkirakan akan terus meningkat, penerimaan tersebut tidak akan cukup untuk membiayai peningkatan pengeluaran yang stabil. Penyebabnya, populasi yang menua dengan cepat dan kenaikan suku bunga jangka panjang mendorong biaya kesejahteraan sosial dan pembayaran utang.

Biaya pembayaran utang kemungkinan akan mencapai ¥ 40,3 triliun yen pada tahun fiskal 2029, naik dari ¥ 31,3 triliun di tahun fiskal 2026 dan sekitar 30% dari total pengeluaran. Kondisi ini menggarisbawahi tekanan yang akan ditimbulkan oleh kenaikan imbal hasil obligasi terhadap keuangan Jepang.

Baca Juga: Pengangguran Inggris Melonjak: Terburuk Sejak 2015!

Kemenkeu Jepang akan mengajukan perkiraan tersebut ke Parlemen Jepang untuk dipertimbangkan. Namun ini menyoroti tantangan yang dihadapi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam memenuhi janjinya menghindari penerbitan utang baru untuk mendanai rencana pemotongan pajak dan pengeluarannya.

Meskipun inflasi meningkat dan laba perusahaan yang kuat telah mendorong pendapatan pajak, keuangan Jepang akan berada di bawah tekanan karena obligasi berbunga rendah yang diterbitkan di masa lalu diperpanjang.

Rencana kenaikan suku bunga Bank of Japan juga akan terus menekan imbal hasil obligasi. Sejak keluar dari program stimulus besar-besaran pada 2024, bank sentral telah memperlambat pembelian obligasi dan menaikkan suku bunga, seiring kemajuan Jepang dalam memenuhi target inflasi 2% secara berkelanjutan.

Selanjutnya: Libur Imlek 2026, Kadin Soroti Tren Penjualan Tiket Pesawat - Kereta Melonjak

Menarik Dibaca: Cara Berbagi dan Mengatur Keuangan di Tahun Kuda Api ala Blu