KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang digunakan sebagai stabilitas rupiah jangka pendek, namun upaya itu mendelusi atau mengurangi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menyampaikan ketidakpastian ekonomi yang tinggi pada 2025 direfeksikan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang melemah. Ia menjelaskan bahwa untuk mengatasi ketidakpastian, kebijakan moneter memanfaatkan SRBI sebagai instrumen utama.
Menurutnya, meskipun instrumen moneter cukup beragam, SRBI menjadi yang paling disorot. Ia juga menilai bahwa sejak 2023 terlihat adanya kecenderungan ketergantungan yang semakin besar terhadap instrumen tersebut.
Baca Juga: Ada Dorongan Kredit UMKM Tumbuh Dobel Digit Saat Realisasinya di Bawah 3% Eko menambahkan bahwa SRBI pada dasarnya digunakan untuk jangka pendek, terutama saat terjadi instabilitas dan ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi tersebut, SRBI diterbitkan untuk menyerap likuiditas, sehingga perbankan dapat membelinya dan memperoleh keuntungan tanpa harus menyalurkan kredit. “Tapi implikasinya adalah, oke stabilitasnya dapat meski kenyataannya rupiahnya tetap melemah, sayangnya adalah kebijakan ini akan mendelusi akan menurangi menurunkan kekuatan atau optimalnya fungsi dari kebijakan moneter yang lain yaitu pertumbuhan ekonomi,” tutur Eko dalam Diskusi Publik INDEF, dikutip Minggu (25/1/2026). Ia menyebut, semakin penerbitan SRBI diperbanyak, maka akan semakin enggan perbankan menyalurkan uangnya untuk sektor riil. Alasannya, tanpa menyalurkan kreditpun, bunga SRBI jauh lebih menarik, sekitar 4% hingga 5% saat ini.
Baca Juga: Bank Mandiri Catat Kredit Wholesale Tumbuh 15,8% per Mei 2025 Eko khawatir, apabila kebijakan seperti ini terus dilanjutkan, target pertumbuhan ekonomi di atas 5% sulit tercapai. Maka dari itu, ia berharap Bank Indonesia (BI) bisa mengurangi penerbitan SRBI. “Karena instrument SRBI cukup melenakan (bank) untuk langsung aja taruh di situ, karena sudah dapat imbal hasil yang besar tanpa harus menyalurkan kredit,” ungkapnya. Lebih lanjut, Eko menyimpulkan, semakin penerbitan SRBI tidak dikurangi, maka akan terlihat semakin lambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Permata Bank Targetkan Kredit Konsumer Tumbuh 10% pada 2026 Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, pihaknya terus berupaya mengurangi penerbitan SRBI.
Ia mencatat, ekspansi likuiditas rupiah juga ditempuh BI melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI dari Rp 916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp 730,90 triliun pada akhir tahun 2025, serta berlanjut turun menjadi Rp 694,04 triliun pada 20 Januari 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News