KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang korporasi sepanjang semester I-2026 mengalami perlambatan di tengah kenaikan suku bunga dan meningkatnya biaya dana di pasar keuangan. Meski begitu, prospek pasar obligasi korporasi pada semester II-2026 dinilai cukup solid, terutama karena tingginya kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) emiten. Laporan terbaru PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan nilai emisi surat utang korporasi hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp 87,35 triliun, turun 3,91% secara tahunan (yoy).
Perlambatan ini dipicu kenaikan yield di pasar sekunder yang mengikuti pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN), sehingga biaya penerbitan obligasi baru ikut meningkat.
Baca Juga: Yield Mulai Terkerek, Biaya Utang Korporasi Berpotensi Naik pada Sisa 2026 Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto mengatakan kenaikan yield mendorong penyesuaian kupon pada emisi baru dan tren tersebut diperkirakan masih berlanjut. "Kenaikan yield membuat pembentukan kupon emisi baru ikut meningkat dan trennya masih akan berlanjut," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026). Meski penerbitan melemah pada paruh pertama tahun ini, Pefindo tetap mempertahankan proyeksi nilai emisi surat utang korporasi sepanjang 2026 di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun. Optimisme tersebut didukung besarnya nilai surat utang yang jatuh tempo pada semester II-2026, yakni mencapai Rp 107,51 triliun. Selain itu, hingga 30 Juni 2026 Pefindo masih mengantongi mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp 50,82 triliun dari 43 perusahaan. Portfolio Manager Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi menilai minat investor terhadap penerbitan obligasi baru masih cukup baik. Namun, kemampuan pasar menyerap emisi akan sangat bergantung pada persepsi risiko dan tingkat imbal hasil yang ditawarkan. "Emiten dengan fundamental kuat dan menawarkan spread yang menarik dibandingkan SBN berpotensi tetap memperoleh permintaan yang baik," kata Putri kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Pekan Pertama Juli, Penerbitan Surat Utang Korporasi Capai Rp 10,15 Triliun Di sisi lain, tingginya suku bunga acuan dan ketatnya likuiditas masih menjadi tantangan bagi pasar obligasi.
Penyerapan dana melalui SBN dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga memperketat persaingan likuiditas di pasar domestik, sehingga emiten dengan profil risiko lebih tinggi diperkirakan harus menawarkan kupon yang lebih besar untuk menarik investor. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai pasar surat utang korporasi masih memiliki ruang tumbuh meski biaya penerbitan meningkat. "Pasar masih dapat tumbuh secara nominal, tetapi kualitas penerbitan dan kemampuan refinancing akan semakin terpolarisasi," ujarnya. Memasuki semester II-2026, kemampuan emiten membaca momentum pasar dan menyesuaikan strategi pendanaan dinilai akan menjadi faktor penting untuk menjaga keberhasilan penerbitan surat utang di tengah kondisi likuiditas yang masih ketat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News