Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun 41,8% Jadi Rp 14,57 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang multifinance mengalami penurunan signifikan. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 14,57 triliun per Juli 2026.

"Nilainya turun 41,8%, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25,03 triliun," ungkap Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin kepada Kontan, Selasa (25/8).

Ahmad menerangkan penurunan penerbitan surat utang multifinance jauh lebih dalam dibandingkan total penerbitan surat utang korporasi yang turun 16,2% secara Year on Year (YoY), dari Rp 134,07 triliun menjadi Rp 112,31 triliun per Juli 2026.


Akibatnya, dia bilang kontribusi multifinance terhadap total penerbitan turun dari 18,7% per Juli 2025 menjadi 13% per Juli 2026.

Baca Juga: Bank BSN Gelar Akad Massal 10.000 Pembiayaan, Mayoritas KPR Subsidi

Ahmad menjelaskan pelemahan tersebut utamanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir, bukan sejak awal tahun. Dia mengatakan data per Mei 2026 menunjukkan penerbitan surat utang multifinance masih mencapai Rp 12,93 triliun atau naik 19,3% YoY, jika dibandingkan dengan posisi per Juli 2026 yang sebesar Rp 14,57 triliun.

"Artinya, tambahan penerbitan setelah Mei relatif kecil. Sebaliknya, penerbitan meningkat sangat besar antara Mei dan Juli 2025. Dengan demikian, selain kenaikan biaya pendanaan, faktor timing dan high-base effect pada Juni–Juli 2025 turut menjelaskan penurunan yang cukup tajam per Juli 2026," tuturnya.

Dari sisi fundamental, Ahmad menyampaikan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate juga menjadi faktor penting. Dia bilang BI Rate naik 100 basis poin dari 4,75% pada April 2026 menjadi 5,75% pada Juni 2026, sehingga benchmark biaya dana meningkat dan investor meminta kompensasi kupon lebih tinggi.

Pada saat yang sama, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi belum terlalu kuat, karena piutang perusahaan pembiayaan hanya tumbuh 1,88% YoY menjadi Rp 511,26 triliun per Juni 2026.

"Kondisi tersebut membuat multifinance lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan nilai penerbitan," kata Ahmad.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News