Pengamat: Dari Jajaran BUMN, Hanya Emiten Bank yang Menarik Saat Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah melaporkan kinerja keuangan di kuartal pertama 2023. Hasilnya, emiten perbankan kompak mencatatkan kenaikan laba bersih.

Alhasil, emiten perbankan masih menjadi tulang punggung emiten pelat merah. Sementara kinerja emiten di sektor lainnya seperti tambang hingga konstruksi masih beragam.

Di sektor konstruksi misalnya, ada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang berbalik menanggung kerugian sebesar Rp 521,25 miliar. Padahal, pada kuartal pertama 2022 lalu, WIKA mampu meraih laba bersih Rp 1,32 miliar.


PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga bernasib serupa, di mana sepanjang tiga bulan pertama 2023 WSKT membukukan rugi Rp 374,93 miliar.

Sementara di sektor pertambangan, hanya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang laba bersihnya tumbuh. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS) harus rela laba bersihnya tergerus.

Baca Juga: IHSG Melemah ke 6.754,5 di Pagi Ini (9/5), Sektor Barang Baku Turun Paling Dalam

Pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, sektor yang paling prospek di tahun 2023 ini adalah sektor perbankan, baik konvensional maupun syariah. Ini tercermin dari kinerja keuangan emiten bank, baik swasta maupun pelat merah yang naik signifikan sepanjang kuartal pertama 2023.

“Kalau dari kelompok BUMN saat ini hanya perbankan yang menarik,” kata Teguh kepada Kontan.co.id, Senin (8/5).

Dari jajaran bank BUMN, Teguh menilai PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi yang paling menarik.  Sebab, dari segi harga, saham BBNI dinilai masih murah.

“Kalau dilihat dari valuasinya, historisnya, BBNI ini masih murah dan kinerjanya bagus,” sambung dia.  Investor bisa masuk ke saham BBNI di level saat ini. Saham BBNI berpotensi naik mengikuti kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Di sisi lain, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk  (BBRI) juga prospektif.  Bukan karena BBRI yang menyasar usaha mikro kecil menengah, tetapi juga bank ini memiliki aset paling besar. BBRI memang menjadi emiten yang paling diuntungkan dari adanya pemulihan ekonomi.

Hanya saja, para investor sudah mem-priced in (menduga) sentimen ini. Hal tersebut tercermin dari saham BBRI yang sudah naik tinggi.

 
BBRI Chart by TradingView

Untuk sektor tambang, Teguh menilai saham PTBA menarik, hanya saja dalam jangka pendek. Salah satu daya tarik saham PTBA dalam jangka pendek adalah pembagian dividen. Emiten tambang batubara ini memang sangat royal dalam membagi dividen. Ini mengingat laba bersih dan kas dividen Bukit Asam yang melimpah.

Investor bisa mencuil cuan dari saham PTBA dengan memanfaatkan sentimen rapat umum pemegang saham (RUPS) yang akan digelar Juni mendatang, di mana PTBA akan memutuskan pembagian dividen.

“Justru karena RUPS nya masih agak lama,  dalam sebulan sahamnya bisa naik karena adanya ekspektasi perusahaan akan membayar dividen yang besar,” kata dia.

Namun untuk jangka menengah hingga panjang, saham emiten batubara dinilai sudah tidak seatraktif tahun lalu. Biasanya, saham akan turun setelah cum date dividen. Investor bisa masuk ke saham PTBA di level saat ini untuk memanfaatkan kenaikan harga seiring sentimen pembagian dividen.

Di sisi lain, emiten konstruksi belum menarik. Mengingat emiten di sektor ini masih memiliki banyak sentimen negatif. Sementara itu, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) akan diuntungkan dari meningkatnya permintaan properti, itu juga dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari