Pengamat Menilai Tekanan Rupiah Bayangi Kualitas Kredit Valas Perbankan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan risiko kredit valuta asing (valas) di sektor perbankan. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), portofolio kredit valas perbankan per Januari 2026 mencapai Rp 1.001,9 triliun. Angka ini tumbuh 5,2% secara tahunan,  tapi turun 1,28% dari akhir 2025.​

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan dampak pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit valas sangat bergantung pada sumber pendapatan debitur.


Baca Juga: Jelang Lebaran, Gadai ValueMax Rasakan Tren Peningkatan Pembiayaan Gadai

Menurutnya, debitur yang memperoleh pendapatan dalam rupiah berpotensi menghadapi tambahan beban pembayaran utang ketika rupiah melemah terhadap dolar AS.

“Kalau usaha bisnis dari peminjam kredit valas menghasilkan keuntungan dalam bentuk rupiah, tentu mereka akan mengalami tambahan beban terkait pembayaran bunga dan pokok utang,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (10/3/2026).

Namun kondisi tersebut berbeda bagi debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang asing. Bagi perusahaan dengan bisnis berbasis ekspor atau yang menerima pembayaran dalam valas, pelemahan rupiah tidak terlalu menjadi masalah.

Risiko tersebut juga dapat diminimalkan apabila debitur melakukan lindung nilai atau hedging terhadap kewajiban utangnya.

“Bagi peminjam yang profitnya dalam rupiah, selama mereka sudah melakukan hedging untuk melindungi nilai kredit valasnya, saya rasa tidak akan menjadi masalah besar,” jelasnya.

Ke depan, Myrdal memperkirakan pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi pertumbuhan kredit valas di perbankan. Jika tekanan terhadap nilai tukar berlanjut, permintaan kredit valas berpotensi melambat.

Baca Juga: BCA Catat Pertumbuhan Penyaluran Kredit Valas Sebesar 14,9% pada 2025

Ia memperkirakan pertumbuhan kredit valas dapat turun sekitar 2% hingga 3%, tergantung pada seberapa besar pelemahan rupiah yang terjadi.

“Kalau rupiah terus melemah, ada kemungkinan pertumbuhan kredit valas mengalami perlambatan. Penurunannya bisa sekitar 2%–3%, tergantung seberapa besar depresiasi rupiah,” katanya.

Untuk menjaga kualitas kredit, perbankan dinilai perlu memperkuat langkah mitigasi risiko. Salah satu langkah utama adalah memastikan debitur kredit valas melakukan lindung nilai guna melindungi kewajiban pembayaran dari fluktuasi nilai tukar.

Selain itu, bank juga perlu lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan valas dengan mempertimbangkan sektor usaha serta sumber pendapatan debitur.

Senada, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan mengatakan dampak pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit valas juga sangat bergantung pada profil bisnis debitur.

Menurutnya, risiko kredit akan meningkat apabila kredit valas diberikan kepada perusahaan yang melakukan kegiatan impor tetapi penjualannya dalam rupiah.

Baca Juga: Saham Big Banks Tutup Sesi I Rabu (11/3) dengan Kinerja Beragam

“Risiko kualitas kredit valas akan semakin tinggi bila diberikan kepada importir yang melakukan penjualan dalam rupiah. Namun bagi eksportir atau perusahaan yang memiliki pendapatan dalam valas, pelemahan rupiah justru bisa meningkatkan nilai pendapatan mereka,” ujarnya.

Trioksa menilai, tekanan terhadap kualitas kredit valas masih dapat berlanjut apabila kondisi global tetap bergejolak, terutama jika tensi geopolitik masih memanas dan kondisi ekonomi domestik belum menunjukkan perbaikan signifikan.

“Bila geopolitik masih memanas dan dari dalam negeri belum ada perbaikan ekonomi serta kebijakan yang dapat memperbaiki rating Indonesia, maka potensi pelemahan rupiah masih akan terjadi,” jelasnya.

Karena itu, bank perlu memperketat penyaluran kredit valas, termasuk dengan lebih selektif dalam memberikan pembiayaan serta mendorong penyaluran kredit kepada sektor yang memiliki pendapatan dalam valas, seperti eksportir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News