KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mendorong pemerintah untuk segera mengoptimalkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) guna menekan ketergantungan pada impor LPG. Langkah masif konversi ke CNG dinilai jauh lebih efisien dibandingkan mempertahankan beban subsidi energi yang mencapai puluhan triliun rupiah. Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo menyatakan bahwa CNG memiliki keunggulan besar karena ketersediaan bahan baku domestik yang melimpah dari berbagai blok migas nasional.
"Hanya perlu membangun infrastruktur pendukung gas termasuk dan tidak terbatas pembangunan MS Station sepanjang Pipa Gas Trans Jawa Gresik-Semarang-Cirebon. Terkoneksi dengan 3 Terminal Regas FRSU di Jabar, Jateng dan Jatim. Sesuatu yang lebih efisien dibanding dengan subsidi Rp 87 triliun per tahun. Source Gas dari Bontang, Tangguh, Masela, Kasuri, dan Andaman," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Harga Pertamax Ditahan, Pertamina Ditaksir Tanggung Beban Rp 6 Triliun per Bulan Hadi menambahkan, pihaknya berharap ada langkah masif dalam konversi BBM maupun LPG ke gas, salah satunya melalui CNG Tube untuk menggantikan LPG 3 kg agar dampak ekonominya signifikan. Meski demikian, Ia memaklumi sikap kehati-hatian pemerintah yang menerapkan konsep bertahap (staging) dengan menyasar sektor Hotel, Restoran, Kafe (Horeka), dan Makan Bergizi Gratis (MBG) terlebih dahulu. "Hal yang paling penting adalah gambar besarnya bahwa konversi BBM/LPG ke Gas ini wajib hukumnya dengan berbagai modul antara lain dengan pipanisasi, Mini CNG Tube, Mini LNG dan Kombinasi antara pipanisasi dan CNG/LNG dalam bentuk clustering, cukup untuk real estate dan pesantren," katanya. Hadi menuturkan, jika dibandingkan dengan alternatif lain seperti Dimethyl Ether (DME) dari batubara kalori rendah, proyek DME secara teknis masih sangat mahal akibat kewajiban injeksi karbondioksida (CO2). "Kecuali kita langgar protokol Paris dengan Venting CO2. Namun yakinlah sulit project ini mendapat support perbankan jika CO2 masih di flare. Solusi lain mencari terobosan technology untuk menginjeksikan CO2 dengan murah c.q. China Technology mungkin," ungkapnya. Oleh karena itu, lanjut Hadi, dari kacamata komersial dan bisnis, investasi pada infrastruktur CNG dinilai jauh lebih masuk akal dan bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat serta negara.
Baca Juga: Biaya Logistik Tinggi, Pemerataan Industri Dinilai Jadi Solusi "Dari kacamata komersial, CNG lebih masuk akal, karena harga terjangkau, dan merupakan
clean energy dibandingkan dengan
coal, BBM dan LPG. Tantangannya adalah
mitigasi safety risk dari sisi bejana bertekanan tinggi," urai Hadi. Kendati aspek keamanan kerap menjadi sorotan, Hadi optimistis perkembangan teknologi saat ini telah mampu memitigasi risiko tersebut dengan baik melalui tata kelola yang tepat. "
Technology sudah berkembang pesat, bejana dari serat carbon generasi 4, ringan dan anti ribet,
plug and play dengan
existing fasilities, ukuran dan volume setiap tabungnya match tidak pernah ingkar janji. Tentu dibutuhkan persiapan dan tatakelola yang baik dan benar, serta sosialisasi yang massive agar masyarakat nyaman," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News