Pengamat: Pelemahan Rupiah Bukan karena Minim Intervensi BI, Ini Akar Masalahnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kurs rupiah yang terus mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan semata-mata karena kurangnya intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar keuangan.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan, tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan melemahnya struktur ekonomi nasional yang telah berlangsung dalam jangka panjang.

Anthony bilang, akar persoalan rupiah terletak pada defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural, bukan temporer. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar AS terus lebih besar dibandingkan pasokan yang masuk ke dalam negeri.


“Pelemahan kurs rupiah bukan merupakan kesalahan teknis moneter, melainkan bersifat struktural di luar kendali otoritas moneter,” ujar Anthony dalam keterangan resminya, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Bukan Cuma Listrik, Pemerintah Bidik Ubah Sampah Jadi BBM Pakai Teknologi Pirolisis

Menurut dia, selama ini kestabilan rupiah lebih banyak ditopang oleh masuknya utang luar negeri dan investasi asing untuk menutup defisit transaksi berjalan. Namun ketika aliran dana asing melemah, tekanan terhadap rupiah pun meningkat.

Anthony menyoroti, cadangan devisa Indonesia yang turun US$ 10,3 miliar dalam empat bulan pertama tahun ini, dari US$ 156,5 miliar menjadi US$ 146,2 miliar. Penurunan cadangan devisa tersebut mencerminkan derasnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

“Kurs rupiah tertekan. Kalau kondisi ini berlanjut, kurs rupiah pasti akan terus terpuruk, tembus Rp 18.000 per dolar AS menuju Rp 20.000 per dolar AS,” katanya.

Ia menilai, siapa pun yang menjabat Gubernur BI tidak akan mampu menahan pelemahan rupiah apabila fondasi ekonomi nasional terus melemah. Anthony menyebut kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun atau mengalami deindustrialisasi dini.

Di sisi lain, ekspor Indonesia dinilai stagnan dan kalah bersaing dibandingkan Vietnam yang nilai ekspornya sudah mencapai 1,6 kali ekspor Indonesia. Sementara itu, utang luar negeri pemerintah terus meningkat untuk menopang kebutuhan fiskal.

“Semua faktor tersebut menjadi akar masalah kurs rupiah melemah. Selama itu tidak diperbaiki secara struktural, kurs rupiah akan terus melemah,” ujarnya.

Anthony mengakui Bank Indonesia sebenarnya masih memiliki instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan. Namun kebijakan tersebut memiliki konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor industri.

Baca Juga: Celios: Pembelian SBN Rp 2 Triliun per Hari Dinilai Berisiko bagi Fiskal

“Bank Indonesia hanya dapat menggunakan instrumen kenaikan suku bunga. Hal itu tidak dilakukan dengan konsekuensi kurs rupiah melemah, disertai harapan sektor manufaktur dapat lebih kompetitif karena suku bunga relatif rendah. Tetapi ternyata itu hanya harapan hampa,” katanya.

Karena itu, Anthony menilai pelemahan rupiah seharusnya tidak hanya dibebankan kepada otoritas moneter, melainkan menjadi cerminan dari pengelolaan ekonomi nasional secara keseluruhan yang belum mampu memperkuat struktur industri dan ekspor domestik.

Sekedar mengingatkan, rupiah melemah 0,37% ke Rp 17.733 per dolar AS. Ini adalah kali pertama rupiah tembus ke atas Rp 17.700 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News