KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan industri mineral di Indonesia dinilai masih perlu didorong ke arah hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah dan memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional. Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai, selama ini Indonesia relatif kuat di sektor hulu pertambangan karena lebih mudah dan murah dari sisi investasi. "Sebetulnya Indonesia itu memiliki harapan bahwa kita tidak hanya mengembangkan dari sisi upstream ya ataupun hulu," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/4).
Menurutnya, model pengelolaan yang masih bertumpu pada sektor hulu membuat Indonesia cenderung menjual sumber daya mentah tanpa pengolahan lanjutan yang optimal. Padahal, potensi pengembangan industri berbasis mineral dinilai masih terbuka luas.
Baca Juga: Pasokan Batubara PLTU Seret, CORE Soroti Ketidakpastian RKAB 2026 Ia mencontohkan bagaimana negara seperti China mampu mengembangkan pemanfaatan sumber daya mineral hingga ke sektor industri strategis seperti teknologi, pertahanan, dan kendaraan listrik. "China melakukan pemanfaatan terhadap sumber daya alamnya. Negeri Tirai Bambu melakukan pengembangan yang mencakup sektor industri strategis seperti pertahanan, teknologi, hingga energi terbarukan termasuk kendaraan listrik," sambungnya. Di dalam negeri, industri pertambangan melibatkan berbagai pelaku, baik BUMN maupun swasta. Holding tambang MIND ID mengelola sejumlah komoditas strategis melalui entitas seperti Aneka Tambang, Bukit Asam, hingga Freeport Indonesia. Sementara itu, Inalum berfokus pada peleburan serta hilirisasi aluminium sebagai bagian dari penguatan industri logam nasional. Timah (TINS) menjalankan bisnis pertambangan timah dari eksplorasi hingga pengolahan logam. Adapun Vale Indonesia (INCO) bergerak di sektor pertambangan dan pengolahan nikel. Sementara itu, sektor hilir mineral seperti nikel juga berkembang dengan keterlibatan investor global, terutama di kawasan industri seperti Indonesia Morowali Industrial Park dan Indonesia Weda Bay Industrial Park. Di sektor batu bara, kepemilikan perusahaan cenderung tersebar di tangan konglomerat lokal dengan jaringan bisnis yang luas. Nama-nama besar tersebut telah lama dikenal dengan gurita bisnisnya di industri batu bara nasional. Sebut saja, PT Bumi Resources Tbk berada di bawah kendali Grup Bakrie. Lalu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dikendalikan oleh Garibaldi Thohir usai spin off dari induk usahanya, Alamtri Resources Indonesia (ADRO). Tak Ketinggalan, PT Bayan Resources Tbk dipimpin oleh Low Tuck Kwong yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Sementara Sinar Mas Mining dimiliki keluarga Widjaja. Yayan juga menyoroti bahwa pemanfaatan mineral dan mineral kritis di Indonesia masih dapat dikembangkan lebih lanjut agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Dengan demikian, keberlanjutan industri mineral dinilai tidak hanya bergantung pada aktivitas eksploitasi, tetapi juga pada kemampuan mengelola sumber daya menjadi produk bernilai tambah tinggi yang dapat mendorong kemandirian ekonomi nasional. "pemanfaatan mineral dan mineral kritis di Indonesia masih dapat dikembangkan lebih lanjut. Dengan begitu, potensi hilirisasi dan industri dapat lebih berdampak kepada perekonomian nasional," pungkasnya.
Baca Juga: Novo Nordisk Gandeng OpenAI Percepat Pemanfaatan AI di Sektor Kesehatan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News