KONTAN.CO.ID - Kondisi pasar tenaga kerja Australia menunjukkan pelemahan pada April 2026 setelah jumlah pekerja turun secara tak terduga dan tingkat pengangguran melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Data tersebut memicu ekspektasi bahwa bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) kemungkinan tidak akan terburu-buru kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bursa Asia Naik Kamis (21/5), Ditopang Kinerja Nvidia dan Penundaan Mogok Samsung Melansir
Reuters Kamis (21/5/2026) berdasarkan data Australian Bureau of Statistics (ABS), jumlah tenaga kerja turun 18.600 orang pada April dibanding Maret yang sebelumnya mencatat kenaikan revisi sebesar 23.300 pekerja. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan 15.000 pekerjaan. Lapangan kerja penuh waktu (
full-time) juga turun 10.700 setelah mengalami lonjakan tajam pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,5%, level tertinggi sejak November 2021. Sebelumnya analis memperkirakan tingkat pengangguran akan tetap di 4,3%.
Baca Juga: Nvidia Prediksi Pendapatan Kuartal II Lampaui Ekspektasi, Buyback Saham US$80 Miliar Tingkat partisipasi angkatan kerja turun tipis menjadi 66,7%, sedangkan jam kerja masih meningkat solid sebesar 0,8%. Kepala statistik tenaga kerja ABS, Sean Crick, mengatakan jumlah pengangguran pada April lebih tinggi dibanding pola normal yang biasanya terjadi pada bulan tersebut. Ia menambahkan, penurunan tenaga kerja perempuan menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan pasar kerja secara keseluruhan. “Ini merupakan penurunan pertama pekerjaan perempuan sejak Agustus 2025,” ujarnya. Data yang lebih lemah dari perkiraan itu membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga RBA pada pertemuan bulan depan. Peluang kenaikan suku bunga Juni kini diperkirakan hanya sekitar 10%, turun dari sebelumnya 20%, setelah RBA telah menaikkan suku bunga tiga kali sepanjang tahun ini. Kemungkinan kenaikan suku bunga pada Agustus juga kini dinilai kurang dari 50%.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil Kamis (21/5), Harapan Damai Iran Redam Kekhawatiran Inflasi Merespons data tersebut, dolar Australia melemah 0,2% ke level US$0,7136. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun juga turun tajam 13,8 basis poin menjadi 4,568%. RBA sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,35% guna meredam tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi global akibat perang. Inflasi tahunan Australia tercatat melonjak menjadi 4,6% pada Maret, jauh di atas target bank sentral di kisaran 2%-3%. Meski pasar tenaga kerja selama ini dinilai cukup tangguh, RBA sebelumnya mengisyaratkan perlunya pelemahan tambahan di sektor ketenagakerjaan untuk membantu mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Ambisi Energi China: PetroChina Bidik Produksi Gas Batubara 30 BCM pada 2035 Sejumlah indikator lain juga menunjukkan tanda perlambatan pasar tenaga kerja Australia. Survei ANZ menunjukkan, iklan lowongan kerja turun 0,8% pada April, menjadi penurunan bulanan kedua berturut-turut. Sementara survei bisnis National Australia Bank menunjukkan indeks ketenagakerjaan turun tajam menjadi hanya +1 pada April dari sebelumnya +6.