KONTAN.CO.ID - Pasar tenaga kerja Australia menunjukkan ketahanan pada Mei 2026. Jumlah pekerja kembali meningkat setelah sempat turun pada bulan sebelumnya, sementara tingkat pengangguran turun dari level tertinggi dalam empat setengah tahun terakhir. Data yang dirilis Australian Bureau of Statistics pada Kamis (25/6/2026) menunjukkan jumlah tenaga kerja bertambah 40.300 orang pada Mei. Angka ini membalikkan penurunan 40.600 pekerjaan pada April yang telah direvisi dan lebih tinggi dari perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 30.000 pekerjaan.
Baca Juga: Trump Deklarasikan Amerika Kembali di Perayaan Akbar 250 Tahun Kemerdekaan AS Tingkat pengangguran Australia turun menjadi 4,4% pada Mei dari 4,5% pada April, sesuai ekspektasi ekonom. Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja naik tipis menjadi 66,7%. Data terpisah juga menunjukkan pengeluaran rumah tangga meningkat pada Mei setelah aktivitas perjalanan kembali normal pasca-penurunan yang dipicu konflik Iran pada April. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan konsumen masih cukup kuat meski suku bunga dan harga bahan bakar berada pada level tinggi. Kepala Investasi VanEck Russel Chesler menilai, data tersebut menunjukkan ekonomi Australia masih cukup tangguh. "Ini bukan sinyal perlambatan ekonomi yang diharapkan pasar. Untuk ekonomi yang disebut sedang kehilangan momentum, warga Australia masih bekerja dan masih berbelanja," ujar Chesler.
Baca Juga: China Bergerak Lagi! PBOC Tambah Reverse Repo Overnight untuk Jaga Pasar Keuangan Menurutnya, jika tekanan inflasi tetap tinggi, masih ada peluang bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga. "Kami tetap bergantung pada data, tetapi kami melihat masih ada kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga lagi dalam siklus ini," tambahnya. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Total jam kerja turun cukup tajam sebesar 1,1% pada Mei, sementara jumlah lowongan pekerjaan menyusut 2,1% dalam tiga bulan hingga Mei. Penurunan tersebut menjadi yang pertama sejak akhir tahun lalu. Data terbaru tidak banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter. Peluang kenaikan suku bunga pada Agustus masih diperkirakan sekitar 20%, sementara pasar hanya memperhitungkan pengetatan tambahan sekitar 12 basis poin hingga akhir tahun. Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini hingga mencapai 4,35% dalam upaya menekan inflasi. Langkah tersebut sekaligus menghapus seluruh pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan sepanjang 2025.
Baca Juga: Dolar AS ke Level Tertinggi 13 Bulan Kamis (25/6), Bertaruh The Fed Naikkan Bunga Inflasi utama Australia tercatat sebesar 4,0% pada Mei. Sementara itu, inflasi inti yang diukur melalui
trimmed mean meningkat menjadi 3,6%, masih berada di atas target RBA sebesar 2%-3%. RBA juga menilai pasar tenaga kerja masih relatif ketat. Dalam proyeksi terbarunya, bank sentral memperkirakan tingkat pengangguran baru akan meningkat ke 4,7% pada pertengahan 2028. Ketahanan pasar kerja dan konsumsi rumah tangga tersebut menjadi faktor yang dapat memberikan ruang bagi RBA untuk mempertahankan sikap hawkish apabila tekanan inflasi belum mereda dalam beberapa bulan ke depan.