Pengangguran Hingga Perlambatan Ekonomi Jadi Tantangan Indonesia pada 2026-2028



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam dua tahun kedepan Indoensia dinilai akan dihadapkan pada persoalan kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran utamanya di usia muda.

Hal ini tercantum dalam laporan terbaru World Economic Forum (WEF) yang menempatkan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko terbesar ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan atau periode 2026-2028.

Berdasarkan penilaian risiko nasional, WEF menilai, kurangnya kesempatan kerja dan pengangguran menjadi ancaman paling serius yang akan terjadi di Indonesia. WEF menyebut, kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran dianggap sebagai risiko utama di 27 negara dan termasuk dalam lima besar di 72 negara.


Baca Juga: Danantara Jajaki Kerja Sama Migas Hingga Kelistrikan Hijau dengan Abu Dhabi

“Penciptaan lapangan kerja yang lemah dan tidak merata serta rasa stagnasi mobilitas sosial dan meningkatnya ketidaksetaraan merupakan inti dari erosi kontrak sosial,” mengutip laporan tersebut, Minggu (18/1/2026).

Bonus demografi yang dimiliki belum sepenuhnya diimbangi oleh penciptaan lapangan kerja berkualitas. Ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri, dominasi sektor informal, serta perlambatan ekonomi global berpotensi memperlebar kesenjangan kesempatan kerja. Kondisi ini dinilai dapat memicu persoalan sosial lanjutan apabila tidak direspons dengan kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif.

Risiko kedua yang akan dialami Indonesia adalah,  masih terbatasnya layanan publik dan sistem perlindungan sosial, termasuk pendidikan, infrastruktur, dan jaminan hari tua. Ketimpangan kualitas layanan antarwilayah khususnya antara perkotaan dan daerah tertinggal menjadi sorotan. Dalam jangka panjang, lemahnya perlindungan sosial dapat menghambat mobilitas ekonomi masyarakat serta memperbesar ketimpangan pendapatan.

Ketiga, perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence) juga dipersepsikan sebagai risiko penting bagi Indonesia. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan produktivitas; namun di sisi lain, terdapat kekhawatiran terkait penggantian tenaga kerja, kesenjangan keterampilan digital, serta isu etika dan tata kelola data.

Menurut WEF, ancaman mengindikasikan bahwa kalangan pelaku usaha mengkhawatirkan adopsi teknologi tinggi tanpa kesiapan sumber daya manusia justru akan memperparah krisis pengangguran struktural.

Keempat, risiko perlambatan ekonomi, seperti resesi atau stagnasi, menempati peringkat berikutnya. Ketergantungan pada kondisi global, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan geopolitik menjadi faktor yang dapat menahan laju pertumbuhan Indonesia. Perlambatan ekonomi berisiko menekan daya beli masyarakat, mempersempit ruang fiskal pemerintah, dan memperlambat penciptaan lapangan kerja.

Kelima, inflasi masih dipersepsikan sebagai risiko signifikan, terutama terkait harga pangan dan energi. Tekanan inflasi dapat menggerus daya beli rumah tangga, khususnya kelompok berpendapatan rendah.

Dalam konteks Indonesia, faktor cuaca, gangguan distribusi, serta volatilitas harga global menjadi pemicu utama yang perlu diantisipasi melalui kebijakan stabilisasi yang konsisten.

Baca Juga: KNKT: ELT Pesawat ATR yang Hilang Kontak Rusak Akibat Menabrak Lereng Gunung

Selanjutnya: Luka Etika Demokrasi

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News