Pengangguran Jadi Risiko Ekonomi Terbesar Indonesia Dua Tahun ke Depan, Ini Faktornya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam dua tahun kedepan Indonesia dinilai akan dihadapkan pada persoalan kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran utamanya di usia muda.

Hal ini tercantum dalam laporan terbaru World Economic Forum (WEF) yang menempatkan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko terbesar ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan atau periode 2026-2028.

Di sisi lain, Indonesia juga diperkirakan akan menghadapi permasalahan pelayanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai (termasuk pendidikan, infrastruktur, pensiun), dampak buruk dari teknologi kecerdasan buatan, kemerosotan ekonomi (misalnya resesi,stagnasi) dan inflasi.


Baca Juga: Pengangguran Hingga Perlambatan Ekonomi Jadi Tantangan Indonesia pada 2026-2028

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menyampaikan, permasalahan pengangguran dan keterbatasan kesempatan ekonomi yang ditempatkan pada urutan pertama yang akan terjadi di Indonesia dalam dua tahun ke depan, dinilai wajar.

“Ini ditempatkan di urutan teratas karena menjadi simpul dari persoalan lain yakni kualitas layanan publik yang belum optimal menekan produktivitas,” tutur Rizal kepada Kontan, Minggu (18/1/2026).

Menurutnya, produktivitas yang rendah yang terjadi saat ini telah membatasi penciptaan kerja berkualitas, dan pada akhirnya membuat ekonomi lebih rapuh menghadapi tekanan inflasi, perlambatan global, maupun disrupsi teknologi

Rizal mengungkapkan, persoaoalan pengangguran, masalah utamanya bukan hanya angka tingkat pengangguran terbuka yang secara statistik relatif rendah sekitar 4,8% pada 2025 melainkan kualitas dan daya serap lapangan kerja.

Menurutnya, banyak tenaga kerja masih terserap di sektor informal atau berproduktivitas rendah, sementara adopsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, berpotensi mempercepat pergeseran jenis pekerjaan tanpa diimbangi kesiapan keterampilan tenaga kerja.

Baca Juga: Pengangguran Naik Lagi, Sinyal Lapangan Kerja Formal Kian Tertekan

Alhasil, lanjutnya, akumulasi risiko tersebut berdampak langsung pada keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, kondisi inflasi yang relatif terkendali sekitar 3% dinilai memang memberi ruang stabilitas. Akan tetapi, menurutnya tetap menggerus daya beli ketika pertumbuhan pendapatan tertahan, sementara dunia usaha masih cenderung berhati-hati dalam berekspansi dan menyerap tenaga kerja baru.

“Solusinya menuntut pergeseran fokus kebijakan dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju penguatan kualitas pertumbuhan,” ungkapnya.

Sokusinya, kata Rizal, penciptaan lapangan kerja harus diarahkan pada sektor-sektor yang benar-benar padat karya dan berorientasi produktivitas, disertai perbaikan pendidikan, vokasi, serta transformasi teknologi yang memperkuat bukan menggantikan peran tenaga kerja.

Baca Juga: Apindo Soroti Angka Pengangguran Gen Z Cukup Tinggi, Capai 17% pada 2025

Selanjutnya: Ini Respons AAJI Soal Aturan Repricing Premi dalam POJK Asuransi Kesehatan

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News