KONTAN.CO.ID - Tingkat pengangguran di Selandia Baru meningkat ke level tertinggi dalam 11 tahun pada kuartal III-2026. Kondisi ini menambah tekanan terhadap perekonomian negara tersebut menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026. Statistics New Zealand melaporkan, tingkat pengangguran mencapai 5,7% dalam tiga bulan hingga September 2026.
Angka tersebut naik dari 5,5% pada kuartal sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak 2015.
Baca Juga: Kebocoran Data Amadeus Meluas, 46.000 Pemesanan Singapore Airlines Terdampak Di saat yang sama, jumlah tenaga kerja yang terserap turun 0,1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga melemah menjadi 70,4%, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 70,7%. Data tersebut lebih buruk dibandingkan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters. Sebelumnya, ekonom memperkirakan tingkat pengangguran bertahan di 5,5%, sementara jumlah tenaga kerja diperkirakan meningkat 0,4%. Kenaikan pengangguran menjadi tantangan bagi Perdana Menteri Christopher Luxon yang tengah berupaya mempertahankan kekuasaan dalam pemilu. Koalisi pimpinan Partai Nasional berhadapan dengan tekanan untuk menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meredakan tekanan biaya hidup. Survei Ipsos yang dirilis awal pekan ini menunjukkan inflasi dan biaya hidup menjadi perhatian utama pemilih menjelang pemilu. Juru bicara keuangan Partai Buruh oposisi Barbara Edmonds menilai, data ketenagakerjaan tersebut mencerminkan kondisi pengelolaan ekonomi pemerintahan Luxon.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Tipis, Penurunan Harga Minyak Redakan Kekhawatiran Inflasi Menurut dia, tekanan biaya hidup masih membebani rumah tangga pekerja, sementara kenaikan upah belum mampu mengimbangi peningkatan pengeluaran. Di sisi lain, Menteri Keuangan Nicola Willis mengatakan data tersebut mencerminkan dampak ketidakpastian terhadap perekonomian. Ia menilai pemerintah perlu melanjutkan kebijakan yang sedang dijalankan untuk memulihkan ekonomi. Meski sejumlah ekonom melihat tanda-tanda pemulihan ekonomi, kondisi pasar tenaga kerja masih melemah. Tingkat pengangguran bahkan belum mencapai puncaknya pada kuartal II seperti yang sebelumnya diperkirakan bank sentral. Pertumbuhan upah juga menunjukkan perlambatan. Indeks biaya tenaga kerja sektor swasta, tidak termasuk lembur, hanya meningkat 0,4% pada kuartal III, melambat dari kenaikan 0,7% pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan upah turun menjadi 2% dari 2,1%.
Baca Juga: Pemilu Sela AS Memanas, Kendali Kongres Trump Terancam Direbut Demokrat Implikasi terhadap suku bunga Pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi mengurangi tekanan bagi Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) untuk kembali menaikkan suku bunga. Pekan lalu, bank sentral secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan atau official cash rate di level 2,75%. RBNZ menyatakan perlu waktu untuk mengevaluasi dampak dua kenaikan suku bunga sebelumnya. Meski demikian, bank sentral masih mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Ekonom Kiwibank menilai keputusan mempertahankan suku bunga semakin mendapat pembenaran seiring melemahnya pasar tenaga kerja. Mereka berpendapat, kondisi ketenagakerjaan yang lesu dapat menahan tekanan kenaikan harga sehingga kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut berpotensi berkurang apabila tren tersebut berlanjut.
Baca Juga: Hasil Man United vs AS Roma 3-2: Bruno Fernandes dan Cunha Pimpin Comeback Saat ini, mandat utama bank sentral Selandia Baru adalah menjaga stabilitas inflasi, meskipun kondisi ketenagakerjaan tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. Partai Buruh menyatakan akan mengembalikan mandat ganda bank sentral apabila memenangkan pemilu. Dengan perubahan tersebut, RBNZ akan mempertimbangkan stabilitas harga sekaligus pencapaian tingkat pengangguran maksimum yang berkelanjutan. Data ketenagakerjaan tersebut turut memengaruhi pasar keuangan. Dolar Selandia Baru sempat melemah sebelum kembali bergerak relatif stabil di sekitar US$ 0,5592. Sementara itu, suku bunga swap tenor dua tahun turun 6 basis poin menjadi 3,7815%.