KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Sentral Korea Selatan atau Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun, seiring menguatnya pertumbuhan ekonomi yang memicu tekanan inflasi. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa siklus pengetatan kebijakan moneter belum berakhir. Dalam rapat dewan kebijakan moneter yang digelar Kamis (16/7/2026), BOK memutuskan menaikkan suku bunga repo tujuh hari sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.
Keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar won yang melemah sekaligus meredam tekanan inflasi yang masih bertahan tinggi.
Baca Juga: Won Diperdagangkan 24 Jam Mulai Juli, Bank-bank Korea Selatan Siaga Tambah Shift Dalam pernyataannya, BOK menyebut pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan akan jauh melampaui proyeksi sebelumnya sebesar 2,6% yang dirilis pada Mei. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap berada pada level tinggi dalam waktu yang cukup lama. Prospek ekonomi yang lebih kuat menjadi salah satu alasan bank sentral mulai menarik stimulus moneter. Pemulihan ekonomi Korea Selatan berlangsung lebih cepat dari perkiraan, didorong lonjakan ekspor dan investasi di sektor semikonduktor. Pada kuartal I, produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan tumbuh 1,8% dibanding kuartal sebelumnya, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir enam tahun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 3,0%, tertinggi dalam lima tahun, berkat masih kuatnya permintaan global terhadap produk semikonduktor. Di sisi lain, nilai tukar won masih berada di bawah tekanan. Sepanjang tahun ini, mata uang Korea Selatan telah melemah sekitar 3,4% terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga memperkuat alasan BOK untuk menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Bank Sentral Korea Pertahankan Suku Bunga 2,50%, Waspadai Dampak Perang Iran Ekonom Capital Economics, Gareth Leather, menilai masih ada ruang bagi BOK untuk melanjutkan pengetatan kebijakan dalam beberapa bulan mendatang. Meski konsumsi rumah tangga masih lemah dan penjualan ritel secara riil terus menurun, ia memperkirakan ekonomi Korea Selatan tetap mampu tumbuh hingga 4,0% tahun ini, lebih tinggi dibanding konsensus pasar. Pelaku pasar secara umum telah mengantisipasi keputusan tersebut. Nilai tukar won terhadap dolar AS bergerak relatif stabil setelah pengumuman, sementara indeks saham utama KOSPI melemah sekitar 0,7% akibat aksi jual pada saham-saham sektor semikonduktor.
Keputusan BOK juga sejalan dengan tren pengetatan kebijakan moneter di kawasan Asia. Sebelumnya, Bank of Japan juga menaikkan suku bunga acuannya, sementara bank sentral Australia, Selandia Baru, Indonesia, dan Filipina telah lebih dulu memperketat kebijakan moneternya.
Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Tahan Suku Bunga, Waspadai Inflasi akibat Perang Iran Dengan inflasi Korea Selatan yang masih berada di level tertinggi dalam sekitar dua setengah tahun terakhir, mayoritas analis memperkirakan BOK akan kembali menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi sebelum akhir tahun, sehingga suku bunga acuan berpotensi mencapai 3,00%. Berdasarkan proyeksi median para ekonom, suku bunga acuan Korea Selatan diperkirakan akan naik menjadi 3,25% pada kuartal I 2027 dan bertahan di level tersebut hingga setidaknya akhir tahun depan.