JAKARTA. Lesunya permintaan di pasar global menjegal peluang kenaikan harga timah. Padahal, ada penurunan suplai timah asal Indonesia. Kemarin (14/9), TINPB300 pengiriman Juli 2016 di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) dihargai US$ 15.400 per metrik ton. Harga tersebut turun 4,97% dibanding awal Agustus lalu. Pada periode yang sama, harga timah pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange juga terpangkas 2,97% ke US$ 15.530 per metrik ton. Padahal, sejak 1 Agustus lalu, Pemerintah Indonesia memberlakukan Permendag No 33/2015 tentang Ketentuan Ekspor. Beleid ini mewajibkan ekspor timah dilakukan melalui bursa domestik. Selain itu, pengekspor harus memiliki Surat Persetujuan Ekspor (SPE). Salah satu tujuannya untuk meredam banjir suplai timah ilegal di pasar global, sehingga harga diharapkan bisa pulih. Deddy Sumedi, Direktur Ekspor Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, mengatakan, Pemerintah Indonesia sedang menyelesaikan berbagai permasalahan di industri timah. "Namun di sisi lain, permintaan timah global juga sedang lemah," ujarnya, Senin (14/9).
Pengetatan ekspor belum angkat harga komoditas
JAKARTA. Lesunya permintaan di pasar global menjegal peluang kenaikan harga timah. Padahal, ada penurunan suplai timah asal Indonesia. Kemarin (14/9), TINPB300 pengiriman Juli 2016 di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) dihargai US$ 15.400 per metrik ton. Harga tersebut turun 4,97% dibanding awal Agustus lalu. Pada periode yang sama, harga timah pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange juga terpangkas 2,97% ke US$ 15.530 per metrik ton. Padahal, sejak 1 Agustus lalu, Pemerintah Indonesia memberlakukan Permendag No 33/2015 tentang Ketentuan Ekspor. Beleid ini mewajibkan ekspor timah dilakukan melalui bursa domestik. Selain itu, pengekspor harus memiliki Surat Persetujuan Ekspor (SPE). Salah satu tujuannya untuk meredam banjir suplai timah ilegal di pasar global, sehingga harga diharapkan bisa pulih. Deddy Sumedi, Direktur Ekspor Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, mengatakan, Pemerintah Indonesia sedang menyelesaikan berbagai permasalahan di industri timah. "Namun di sisi lain, permintaan timah global juga sedang lemah," ujarnya, Senin (14/9).