KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aplikasi gaya hidup muslim, Muslim Pro, mencatat lonjakan signifikan selama Ramadan dengan jumlah unduhan dan penggunaan aktif yang meningkat hingga dua kali lipat dibanding periode normal. Momentum bulan puasa dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan trafik dan keterlibatan pengguna di platform tersebut. Direktur Utama dan CEO Muslim Pro Nafees Khundker mengatakan Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap peningkatan tersebut, baik dari sisi unduhan baru maupun intensitas penggunaan aplikasi. “Selama Ramadan secara alami kami memiliki lebih banyak pengguna. Basis pengguna kami sebenarnya meningkat lebih dari dua kali lipat selama Ramadan, dan ini terjadi di seluruh dunia. Apapun yang kami lihat, baik per hari maupun per bulan, angkanya bisa lebih dari dua kali lipat,” ujar Nafees di Jakarta, Selasa (3/2).
Baca Juga: IDCloudHost dan Edelweiss Healthcare Bangun Infrastruktur AI di Sistem Kesehatan Secara global, Muslim Pro telah mencatat lebih dari 182 juta unduhan. Indonesia menyumbang sekitar 40 juta unduhan, menjadikannya salah satu pasar terbesar perusahaan. Tahun ini, Muslim Pro menargetkan total unduhan global dapat menembus kisaran 200 juta hingga 210 juta, dengan target khusus Indonesia mencapai 50 juta unduhan. Dari sisi pengguna aktif, saat ini terdapat lebih dari lima juta pengguna aktif di Indonesia pada periode normal. Angka tersebut meningkat signifikan selama Ramadan. Perusahaan menargetkan jumlah pengguna aktif di Indonesia dapat mencapai 8 juta hingga 10 juta dalam dua tahun ke depan seiring peningkatan fitur dan penetrasi pasar. Nafees menyebut tren pertumbuhan pengguna di Indonesia juga menunjukkan kenaikan tahunan yang konsisten. Sepanjang tahun lalu, unduhan dari Indonesia meningkat sekitar 30%–32% atau bertambah sekitar delapan juta unduhan. Tahun ini, perusahaan membidik tambahan sekitar 10 juta unduhan baru dari pasar domestik. Ia menambahkan, lonjakan penggunaan aplikasi paling terasa pada pekan pertama dan pekan terakhir Ramadan, serta kembali meningkat saat periode Idulfitri. Menurutnya, momentum Ramadan lebih banyak mendorong intensitas penggunaan dibanding sekadar unduhan baru, meski tambahan pengguna tetap terjadi secara signifikan. “Minggu pertama Ramadan sangat kuat, dan minggu terakhir juga sama kuatnya. Kami melihat pola yang serupa saat Hari Raya,” katanya. Dari sisi fitur, Al-Qur’an digital menjadi layanan yang paling banyak digunakan baik di Indonesia maupun secara global. Pola ini relatif tidak berubah dibanding hari biasa, namun durasi penggunaan meningkat selama bulan puasa. Selain itu, fitur
Ramadan Mode turut mendorong keterlibatan pengguna melalui sajian lantunan ayat Al-Qur’an beserta terjemahan dan penjelasannya menjelang waktu berbuka dan sahur. “Selama Ramadan pun tidak berubah, orang paling banyak menghabiskan waktu membaca Al-Qur’an dan ini bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia,” ujar Nafees. Secara demografi, lebih dari 50% pengguna Muslim Pro di Indonesia berusia di bawah 35 tahun, dengan sekitar 35%–36% berada di rentang usia di bawah 25 tahun. Komposisi gender relatif seimbang, yakni 51% perempuan dan 49% laki-laki. Dari sisi geografis, sekitar 30%–35% pengguna berasal dari Jakarta dan lebih dari 10% dari Surabaya, sementara sisanya tersebar di berbagai kota lain di Indonesia. “Sekitar setengah pengguna ada di Jakarta dan Surabaya, setelah itu tersebar di berbagai daerah,” kata Nafees.
Baca Juga: Amdatara Soroti Tantangan Regulasi di Tengah Pertumbuhan Industri AMDK Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News