KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak diluncurkan pada 2020, CapCut terus berkembang dari aplikasi penyuntingan video menjadi platform kreatif terpadu yang mendukung pengguna menghasilkan beragam karya dan mengikuti tren kreatif. CapCut saat ini tercatat telah memiliki lebih dari 660 juta pengguna di lebih dari 170 pasar dan tersedia dalam 30 bahasa. “Sejak awal, CapCut berupaya menyederhanakan proses pembuatan video agar mudah dilakukan oleh lebih banyak orang,” ujar Xiaoqi Fu, Global Head of CapCut, dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026). Menurutnya, CapCut kini terus menyatukan lebih banyak tahapan dalam proses kreatif ke dalam satu platform, tanpa mengurangi kendali pengguna dalam menentukan hasil akhir karyanya.
Untuk mengapresiasi sekaligus memberdayakan komunitas kreator, CapCut memperkenalkan CapCut World, rangkaian acara komunitas yang digelar di Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Eropa. Gelaran perdana CapCut World Asia Tenggara berlangsung di Singapura dan dihadiri lebih dari 300 kreator, pemimpin industri, serta tim CapCut. Acara tersebut menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, tips kreatif, sekaligus mengenal berbagai fitur terbaru CapCut.
Baca Juga: Platform MilikiRumah Bantu Akses KPR Lewat Skema PraKPR Salah satu penggerak komunitas CapCut adalah para kreator templat. Saat ini, lebih dari 6 juta kreator telah menghasilkan lebih dari 400.000 templat baru setiap hari. CapCut juga memperkenalkan fitur Skills, yang memungkinkan kreator menyimpan dan membagikan gaya, alur kerja, serta teknik di balik karya mereka. Fitur ini membantu kreator lain mempelajari, menyesuaikan, dan menerapkan proses tersebut dalam karya mereka sendiri. Salah satu pengguna Skills adalah sineas sekaligus kreator CapCut, Vee Camallere. Dalam produksi serial berbasis AI Featherweight yang telah meraih lebih dari 25 juta penayangan, Vee menggunakan Skills untuk menyimpan proses color grading. Sehingga, tampilan visual setiap episode dapat tetap konsisten tanpa harus mengulang proses dari awal. Di sisi teknologi, lanjut Xiaoqi Fu,CapCut kini memiliki lebih dari 85 fitur berbasis AI. Sepanjang 2026, berbagai fitur tersebut telah membantu komunitas menghasilkan lebih dari 6 miliar kreasi orisinal, mulai dari gambar, video, hingga efek. Xiaoqi Fu bilang, fitur-fitur AI tersebut dirancang untuk membantu kreator menjalankan lebih banyak tahapan produksi dalam satu aplikasi. Melalui AI Lab, misalnya, kreator dapat mengembangkan ide awal berdasarkan visi mereka, kemudian menyusun cerita, karakter, dan adegan melalui Infinite Canvas.
Baca Juga: TrendAI Hadirkan Platform AI dengan Pusat Data Lokal di Indonesia CapCut juga mengembangkan teknologi untuk mendukung proses kreatif yang lebih bertanggung jawab. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penerapan invisible watermarks dan Kredensial Konten berbasis C2PA.
Teknologi tersebut mendukung sejumlah fitur, termasuk Video Studio, yang memungkinkan kreator mengedit bagian tertentu berdasarkan timestamp, karakter, atau elemen visual tanpa harus membuat ulang seluruh adegan. Sementara untuk gambar, Design Studio memungkinkan pengguna melakukan penyuntingan melalui arahan visual sekaligus mengatur setiap elemen dalam layer. Seluruh fitur tersebut mengintegrasikan proses pembuatan video, gambar, desain, dan konten berbasis AI dalam satu platform yang tersedia di perangkat seluler, desktop, web, dan tablet. Setelah Singapura, CapCut World dijadwalkan hadir di Los Angeles dan London pada akhir tahun ini. CapCut pun terus memperluas ekosistemnya, dari penyuntingan video dan gambar hingga desain berbasis AI, dengan tetap menempatkan kendali kreatif di tangan pengguna. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News