KONTAN.CO.ID - Perusahaan utilitas di seluruh Asia kini berlomba menutup potensi kekurangan pasokan batubara setelah penambang di Indonesiamenghentikan ekspor batubara spot sebagai bentuk protes terhadap rencana pemerintah yang ingin membatasi produksi. Melansir pernyataan Gavin Maguire, Kolumnis Reuters Rabu (4/2/2026), seorang pejabat industri pertambangan Indonesia menyatakan bahwa ekspor berbasis kontrak jangka panjang masih akan dipertahankan. Namun, pengiriman spot akan “dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah”. Ia juga memperingatkan bahwa bahkan sebagian kontrak jangka panjang berisiko terganggu akibat kondisi tak terduga yang dihadapi penambang.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit ke Dekat US$5.100 Rabu (4/2) Siang, Ketegangan AS–Iran Memanas Pada 2025, Indonesia menyuplai sekitar setengah dari total ekspor batubara termal global, dan menjadi pemasok utama bagi sejumlah importir terbesar dunia, termasuk China, India, Vietnam, dan Filipina. Namun, periode panjang harga batubara global yang lemah mendorong pemerintah Indonesia mengusulkan pemangkasan produksi dan penerapan kuota guna mendongkrak harga ekspor serta penerimaan pajak. Di sisi lain, Maguire menuturkan perusahaan tambang Indonesia mengancam akan melakukan PHK dan menutup tambang jika pemangkasan produksi dipaksakan. Tekanan ini membuat pemerintah berada dalam posisi sulit untuk segera mencari kompromi, sebelum aktivitas tambang dan arus ekspor benar-benar terhenti. Pemerintah Indonesia sebelumnya juga pernah bersikap tegas terhadap sektor tambang. Pada 2022, otoritas sempat menangguhkan ekspor batubara akibat kekurangan pasokan bagi pembangkit listrik domestik. Langkah tersebut kala itu memicu lonjakan tajam harga batubara global. Kini, kontrak berjangka batubara termal Asia kembali naik sekitar 9% ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, menyusul intervensi kebijakan terbaru dari Indonesia. Kenaikan harga lebih lanjut sangat mungkin terjadi seiring importir utama bereaksi terhadap ancaman penurunan pasokan dari Indonesia dan berupaya mengamankan volume pengganti dari negara eksportir lain maupun pedagang global.
Baca Juga: Dihukum Penjara Seumur Hidup, Pembunuh Mantan PM Jepang Shinzo Abe Ajukan Banding Ketergantungan yang Luas Data Kpler menunjukkan 16 negara mengimpor setidaknya 1 juta ton batubara termal dari Indonesia sepanjang 2025. “Negara-negara tersebut mencakup Brunei hingga China, termasuk sebagian besar konsumen batubara terbesar dunia,” kata Maguire. Namun, tingkat ketergantungan berbeda-beda. China dan India, misalnya, masih mengandalkan produksi domestik untuk sebagian besar kebutuhan batubara mereka. Sebaliknya, sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Selatan hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan batubara, sekaligus mengoperasikan sistem kelistrikan yang menjadikan batubara sebagai sumber energi utama. Jika volume ekspor Indonesia ke pasar global turun secara berkelanjutan, dampaknya akan sangat luas. Hal ini terjadi di saat utilitas Asia tengah berada di bawah tekanan untuk memenuhi puncak permintaan listrik musiman, sementara batubara menyumbang lebih dari setengah produksi listrik regional.
Baca Juga: Bursa Saham Australia Ditutup Menguat, Disokong Sektor Pertambangan & Perbankan Negara Paling Rentan Filipina, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia menjadi negara yang paling sensitif terhadap gangguan pasokan batubara Indonesia. Filipina tercatat sebagai pembeli paling bergantung, dengan 98% impor batubaranya pada 2025 berasal dari Indonesia, menurut data Kpler. Batubara juga menjadi sumber listrik utama di Filipina, menyumbang sekitar 57% produksi listrik utilitas tahun lalu, berdasarkan data lembaga kajian energi Ember. Bangladesh juga mengamankan lebih dari 90% impor batubaranya dari Indonesia pada tahun lalu, sekaligus meningkatkan porsi batubara dalam bauran listriknya ke level tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, Malaysia dan Vietnam memperoleh lebih dari setengah kebutuhan impor batubara mereka dari Indonesia pada 2025, dan sama-sama bergantung pada batubara untuk 40% atau lebih pasokan listrik nasional.
Baca Juga: Goldman Sachs & Macquarie Naikkan Proyeksi Harga Nikel 2026, Pasokan RI Kian Ketat Dampak Meluas hingga China dan India Dampak penghentian ekspor spot Indonesia dalam jangka panjang juga akan terasa di pasar yang relatif kurang bergantung pada impor seperti China dan India, terutama karena lokasi pembangkit listrik mereka. Sejumlah pembangkit listrik batubara besar di China dan India berada di dekat pelabuhan impor utama, sehingga selama ini lebih mengandalkan pasokan internasional ketimbang batubara domestik.
Jika reli harga batubara global berlanjut, pembangkit tersebut memang dapat beralih ke pasokan dalam negeri, tetapi dengan biaya logistik yang lebih tinggi, karena pengiriman darat melalui truk dan kereta harus menggantikan pengangkutan laut dalam jumlah besar. “Artinya, meskipun utilitas di Filipina dan Bangladesh kemungkinan menjadi yang pertama bereaksi terhadap penghentian ekspor Indonesia, seluruh pembangkit batubara di Asia pada akhirnya akan terdampak, seiring pasar memperhitungkan pemangkasan volume dari pemasok terbesar dunia,” paparnya.