KONTAN.CO.ID - Pangsa pasar Nvidia di industri cip kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) untuk pusat data di China menyusut pada semester I-2026. Pembatasan ekspor Amerika Serikat (AS) menekan pasokan produk Nvidia, sementara produsen cip lokal yang dipimpin Huawei semakin memperkuat posisinya. Mengutip laporan IDC yang dilihat Reuters, Nvidia menguasai 34% pasar cip AI untuk pusat data di China pada Januari-Juni 2026.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Indonesia Terparah dalam 11 Tahun, ASEAN Turun Tangan Perusahaan asal AS tersebut mengirimkan 678.000 unit akselerator AI ke pasar China, turun 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akselerator AI merupakan cip khusus yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Pangsa pasar Nvidia tertekan di tengah kebijakan Washington yang membatasi akses China terhadap cip AI tercanggih buatan perusahaan tersebut. Pembatasan itu mempersempit pilihan produk Nvidia yang dapat dipasarkan di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Di sisi lain, Beijing mendorong penggunaan teknologi domestik sebagai alternatif produk asing. Perusahaan-perusahaan China juga diwajibkan memperoleh persetujuan untuk mengimpor cip Nvidia yang memenuhi ketentuan ekspor AS.
Baca Juga: Rupiah dan Won Korea Melemah Selasa (13/10), Dolar Taiwan Catat Penurunan Terbesar CEO Nvidia Jensen Huang berulang kali mengkritik pembatasan ekspor tersebut. Ia menilai kebijakan Washington justru memaksa perusahaan AS melepas peluang di pasar cip AI China yang bernilai US$ 50 miliar kepada Huawei. IDC tidak merinci produk Nvidia yang membentuk pangsa pasar 34% tersebut. Laporan itu juga tidak menjelaskan, apakah angka tersebut mencakup cip generasi terbaru seperti B200 dan B300, yang dilarang diekspor ke China tetapi dilaporkan telah diselundupkan ke negara tersebut. Nvidia tidak menanggapi permintaan komentar
Reuters. Sementara itu, Huawei semakin mempersempit kesenjangan dengan Nvidia. Perusahaan teknologi China tersebut mengirimkan 572.000 unit akselerator AI pada semester I-2026, meningkat dari lebih dari 300.000 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Tembaga Stabil Selasa (13/10), Dolar AS Kuat Redam Kekhawatiran Pasokan Chile Volume tersebut memberikan Huawei pangsa pasar sebesar 28%. Pemain lokal lainnya juga mencatatkan pangsa pasar. Unit desain cip Alibaba, T-Head, menguasai 7%, diikuti Cambricon sebesar 5%, Kunlunxin milik Baidu sebesar 4%, serta Hygon sebesar 3%. Dari 11 produsen cip China yang dipantau IDC, sembilan perusahaan mencatatkan kenaikan pengiriman dibandingkan setahun sebelumnya. Secara keseluruhan, pengiriman akselerator AI di China mencapai 2,008 juta unit pada semester I-2026. Namun, pengiriman unit pemroses grafis atau graphics processing unit (GPU), yang banyak digunakan untuk melatih model AI, turun 26% menjadi 991.000 unit akibat terbatasnya pasokan produk yang memenuhi ketentuan penjualan di China daratan. Sebaliknya, pengiriman akselerator AI non-GPU melonjak hampir 80% menjadi 1,016 juta unit. Volume tersebut melampaui pengiriman GPU, menandai perubahan komposisi pasar cip AI China. Kategori non-GPU mencakup cip yang dirancang untuk tugas AI tertentu, termasuk menjalankan model yang telah dilatih. Huawei, T-Head, Kunlunxin, dan Cambricon secara bersama-sama menguasai 95% segmen tersebut.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Dolar AS Bertahan Mendekati Level Tertinggi dalam 18 Bulan Menurut IDC, cip non-GPU semakin banyak digunakan oleh lembaga pemerintah, perusahaan internet, dan penyedia layanan telekomunikasi. Persaingan industri juga mulai bergeser. Jika sebelumnya kemampuan satu cip menjadi tolok ukur utama, kini kemampuan sistem secara keseluruhan turut menentukan daya saing, termasuk seberapa baik cip bekerja dalam klaster komputasi berukuran besar. IDC memperkirakan total pengiriman akselerator AI di China tumbuh 19% sepanjang 2026. Namun, pengiriman GPU diproyeksikan turun 9% akibat keterbatasan pasokan dan pembatasan perdagangan.