Pengiriman Volkswagen Anjlok 4%: Pasar China & AS Jadi Momok!



KONTAN.CO.ID - BERLIN. Volkswagen melaporkan penurunan pengiriman global sebesar 4% di tiga bulan pertama 2026. Ini terjadi lantaran permintaan yang lemah di China dan Amerika Serikat (AS).

Reuters melaporkan, mengutip pernyataan resmi perusahaan, pengiriman Volkswagen di kuartal pertama tahun ini merosot 15% di China dan 20,5% di AS.

"Kuartal pertama tahun 2026 sekali lagi ditandai dengan kondisi ekonomi dan geopolitik yang sangat menantang," kata Marco Schubert, Kepala Penjualan Volkswagen, dikutip Reuters, Senin (13/4/2026). Ia menambahkan, pasar otomotif global sedang mengalami penurunan.


Baca Juga: Ekspansi Agresif China di Brasil, dari Es Krim hingga Mobil Listrik

Perlambatan ekonomi China juga berdampak pada merek-merek Volkswagen, seperti Porsche dan Audi. Pengiriman triwulanan Porsche ke China, yang adalah pasar otomotif terbesar di dunia, turun 21%. Sementara penurunan pengiriman Audi mencapai 12%.

Volkswagen tengah berjuang untuk membendung kerugian di pasar luar negeri utama. Perusahaan ini juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dari pesaing asal China, seperti BYD, tekanan tarif, serta berakhirnya subsidi kendaraan listrik di Amerika Serikat.

China dulu merupakan mesin pertumbuhan utama bagi Volkswagen. Tapi kini, China menjadi salah satu tantangan bagi produsen mobil Jerman tersebut.

Baca Juga: China Umumkan 10 Insentif untuk Taiwan Usai Kunjungan Pimpinan Oposisi

Kondisi serupa juga dirasakan produsen mobil Jerman lain, seperti Mercedes-Benz dan BMW. Perang harga yang sengit dengan merek-merek lokal China yang berkembang pesat menekan margin keuntungan.

Menjelang pameran otomotif Beijing akhir bulan ini, Volkswagen mengandalkan gelombang kendaraan listrik baru yang dikembangkan bersama mitra lokal untuk merebut kembali pangsa pasar di Tiongkok.

Peluncuran model baru juga direncanakan untuk Eropa. Di benua biru ini, grup tersebut masih mempertahankan pertumbuhan pada kuartal pertama.

Pengiriman Volkswagen meningkat 4% di Eropa Barat dan 8% di Eropa Tengah dan Timur.