KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global yang diperkirakan akan menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. Melansir Bloomberg pada Selasa (7/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,08% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya berada di level Rp 17.995 per dolar AS. Sejalan, kurs rupiah Jisdor menguat tipis 0,06% menjadi Rp 17.988 per dolar AS.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, penguatan rupiah pada perdagangan Selasa lebih banyak dipicu oleh
technical rebound, setelah sebelumnya mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat 1,19%, Simak Proyeksi Pergerakannya untuk Rabu (8/7) Selain itu, sentimen eksternal juga relatif kondusif karena dolar AS belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Pelaku pasar juga mulai mengantisipasi rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan terbit pekan ini. "Selain itu, ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) tetap aktif melakukan stabilisasi di pasar valas turut membantu menopang rupiah," ujar Budi kepada Kontan, Selasa (7/7/2026). Menurut Budi, pada perdagangan Rabu (8/7/2026), pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Investor akan mencermati risalah rapat The Fed, perkembangan imbal hasil (
yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta arah pergerakan indeks dolar AS. Dari dalam negeri, pasar juga akan memantau konsistensi langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing. Budi menjelaskan, level Rp 18.000 per dolar AS masih menjadi batas psikologis yang penting bagi pelaku pasar. "Selama belum ada sentimen negatif baru dari global, peluang rupiah bertahan di bawah Rp 18.000 masih cukup terbuka. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi," jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Volatil di Kuartal III-2026, Terbebani Sentimen Fiskal & Suku Bunga Untuk perdagangan Rabu (8/7/2026), Budi memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.930–Rp 18.020 per dolar AS. Menurutnya, apabila tekanan dari sentimen eksternal meningkat hingga mendorong rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS, pelemahan berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika sentimen global membaik dan intervensi BI tetap efektif, rupiah berpeluang kembali menguat menuju kisaran Rp 17.900 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News