KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (27/5). Ini membuat posisi para valuta
emerging market ikut tak pasti. Namun, kondisi ini dinilai hanya berlangsung sementara. Menurut pantauan
real-time Trading Economics, Selasa (27/5) pukul 18.23 WIB, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,26% secara harian ke level 99,370 bps. Alhasil valuta-valuta lainnya terpaksa tunduk, kompak melemah. Padahal, pagi tadi posisi DXY sempat kembali menyentuh 98 bps. Otomatis, valuta-valuta
emerging market kompak bangkit, dengan penguatan rupe India (INR), won Korea (KRW), dan ringgit Malaysia (MYR) yang cukup menonjol.
Pada pukul 9.50 WIB tadi, INR menguat 0,23% secara harian ke level 84,89 rupe per dolar AS, KRW menguat 0,14% secara harian ke level 1.365 won per dolar AS, dan MYR menguat 0,29% secara harian ke level 4,23 ringgit per dolar AS.
Baca Juga: Sentimen Risk On Menyala, Valuta Emerging Market Terangkat Namun, kini ketiganya kompak melemah bersama valuta-valuta lain. Kendati begitu, Research & Development PT Trijaya Pratama Futures Alwy Assegaf menyebut penguatan dolar AS yang mendorong koreksi valuta
emerging market tak akan berlangsung lama. “Penguatan ini lebih ke arah
technical rebound. Mengingat indeks sudah berada di area
oversold, jadi memicu aksi
bargaining,” kata Alwy kepada Kontan, Selasa (27/5). Alwy masih yakin pelemahan dolar AS bakal berlanjut hingga setidaknya akhir tahun. Itu karena sentimen domestik AS masih cenderung negatif, dengan kekhawatiran fiskal dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi sorotan utama. Menurut Alwy, kelangsungan penguatan valuta
emerging market lebih bergantung pada sentimen soal kelanjutan kebijakan tarif impor AS. “Ditundanya tarif Uni Eropa hingga 9 Juli nanti dinilai sebagai sikap optimisme terhadap perdagangan global. Ini yang membuat suasana risk on di pasar emerging market,” sebutnya. Namun, jika penundaan-penundaan kebijakan tarif tersebut nantinya tak bermuara pada kesepakatan yang ideal, valuta
emerging market bakal kena getahnya lagi. “Ini faktor X. Isu dagang kembali mencuat, banyak dana lari dari
emerging market dan mungkin kembali parkir di dolar AS,” tandasnya.
Baca Juga: Prospek Mata Uang Komoditas Tergantung Tarif Dagang & Arah Kebijakan Moneter Prospek valuta emerging market Untuk jangka pendek, setidaknya selagi kondisi global cukup kondusif dengan sentimen tarif dagang yang mereda, Alwy bilang sejumlah valuta
emerging market yang basis ekonomi negaranya positif bisa menjadi pilihan. Misalnya tiga valuta dengan penguatan dominan pagi tadi, yakni INR, KRW, dan MYR. Untuk INR, India memang digadang-gadang bisa menggeser Jepang menjadi negara dengan perekonomian terkuat keempat di dunia. Rilis IMF pada April lalu menyebut India berpotensi mencapai pertumbuhan PDB hingga 6.2% pada 2025. “Itu mendapat dorongan dari kestabilan ekonomi domestik, dengan konsumsi pedesaan yang lebih kuat karena hasil tani yang baik dan inflasi yang mereda,” ungkap Alwy.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Seiring Pelemahan Dolar AS Risk on ke KRW bakal lanjut terdorong optimisme pada sektor ekspor teknologi, utamanya chip semikonduktor Korea Selatan.
Sementara MYR pada dasarnya terdorong
rebound harga komoditas global, sebagaimana Malaysia merupakan salah satu negara pengekspor komoditas. Secara keseluruhan Alwy menilai pasar
emerging market masih bakal diuntungkan oleh pelemahan dolar AS. Memang, dilansir dari Reuters, Selasa (27/5), J.P.Morgan menilai ekuitas
emerging market sedang menikmati dampak positif de-eskalasi dagang AS dengan negara-negara lain. Itu juga tercermin dari indeks MSCI
emerging market FX yang dalam sebulan terakhir telah meningkat 5,7%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News