Penguatan dollar jadi tantangan bagi TINS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) menggenjot produksi bijih timah. Tahun ini, TINS memaksimalkan potensi tambang dari eksplorasi lanjutan.

Dari target produksi 35.000 ton bijih timah, sampai semester I-2017, TINS telah menghasilkan bijih timah sebesar 16.078 ton. Angka ini naik 76,52% dibandingkan periode yang sama tahun 2016, yakni 9.108 ton.

Dalam catatan KONTAN, TINS juga sempat menyatakan akan berupaya mencari lahan pertambangan timah baru selain yang berada di Bangka Belitung maupun di luar Bangka Belitung. Nantinya, wilayah baru yang dibidik tersebut akan dijadikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru, karena cadangan timah dari 128 IUP milik TINS berjenis aluvial terus menipis. Bahkan diprediksi, cadangan timah jenis aluvial tersebut akan habis pada 10 tahun mendatang.


Muhammad Nafan Aji Analis Binaartha Parama Sekuritas menyatakan, seiring dengan membaiknya stabilitas harga komoditas timah dunia, kinerja emiten ini meningkat. Selain juga didukung kondisi pertambangan timah dalam skala domestik yang kondusif.

"TINS berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 160,65 miliar, jauh lebih baik performanya, padahal pada tahun 2016, emiten ini mengalami net loss," terang Nafan kepada KONTAN, Kamis (28/9).

Menurutnya, tantangan yang dihadapi oleh industri ini diantaranya sentimen bahwa dollar AS akan terapresiasi. Apabila The Fed jadi menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada akhir tahun, harga komoditas dunia, termasuk timah akan terkoreksi.

"Kalau dari dalam negeri, selama pemerintah tidak melakukan intervensi yang menghambat dunia investasi pertambangan, maka saya yakin TINS ke depan akan semakin meningkat kinerjanya," ujar Nafan.

Ia memprediksi total pendapatan TINS pada akhir tahun ini meningkat 22% menjadi Rp 8,6 triliun. Sementara kenaikan laba bersih diprediksi sebesar 19% menjadi Rp 301 miliar. "Adapun PER (price earning ratio) TINS adalah 20 kali, hal ini dianggap masih murah," imbuhnya.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli TINS dengan target harga secara bertahap di level 850, 910 dan 980.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini