Penguatan IHSG Pekan Ini Ditopang Sektor Keuangan dan Komoditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan solid sepanjang sepekan terakhir. IHSG naik 1,68% dan ditutup di level 9.075,41 pada perdagangan Kamis (15/1/2026), setelah sempat menyentuh area psikologis 9.100 di sesi perdagangan.

Pada penutupan Kamis, IHSG menguat 0,47% ke 9.075,41. Sepanjang pekan ini, pasar mencatatkan net inflow sekitar Rp 4 triliun.

Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan penguatan IHSG pekan ini didorong oleh kombinasi beberapa katalis domestik serta sentimen komoditas global. Dari sisi sektoral, saham-saham perbankan besar menjadi motor utama.


Baca Juga: Pasar Jam Tangan Mewah Seken Tetap Ramai, Model Sporty Jadi Primadona

“Sepanjang sesi pertama pada 15 Januari, sektor IDXFIN tercatat menguat 1%. Kami melihat ini sejalan dengan valuasi yang masih menarik serta potensi dividen yang mulai diperhitungkan investor,” ujar Audi kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Selain itu, sektor tekstil juga mencatat penguatan signifikan. Hal ini terjadi setelah adanya suntikan pendanaan sebesar US$ 6 miliar yang diarahkan pada pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, serta peningkatan kapasitas ekspor industri tekstil. “Pendanaan tersebut memunculkan ekspektasi peningkatan utilitas pabrik dan daya saing industri,” lanjutnya.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas energi dan mineral juga memberikan dukungan tambahan bagi IHSG. Harga minyak mentah naik ke level 62 dolar per barel, batu bara menguat menuju 110 dolar per ton, dan harga emas mencetak rekor tertinggi baru di 4.630 dolar per troy ounce. Audi menilai lonjakan komoditas memberi sentimen positif bagi emiten-emiten terkait, terutama energi dan tambang.

Meski IHSG menguat, pelaku pasar tetap mencermati risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang kini mendekati Rp16.870 per dolar Amerika Serikat. Audi menilai pelemahan berkelanjutan rupiah dapat menambah tekanan psikologis pasar dan memicu volatilitas lebih lanjut. “Jika depresiasi rupiah berlanjut, akan muncul kekhawatiran terkait stabilitas makro dan potensi tekanan pada biaya impor sejumlah sektor,” imbuhnya.

Ke depan, Audi menilai IHSG berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan fluktuatif mengikuti perkembangan nilai tukar dan pergerakan harga komoditas global. Investor disarankan tetap mencermati arah rupiah serta rilis data ekonomi eksternal yang dapat mengubah sentimen secara cepat.

Baca Juga: Efek Cukai, Kinerja Emiten Rokok Bisa Ngebul di Tahun 2026

Selanjutnya: Rosan Ungkap Lima Negara Top Investor RI Sepanjang 2025, Singapura Hingga Jepang

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Sini, Cek Peringatan dini BMKG Cuaca Besok (16/1) Jabodetabek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News